H. Lukman Hakiem

Telusur.co.idKETIKA masih kelas 5 Algemeene Middelbare Schoolen (AMS) di Bandung,  Mohammad Natsir (1908-1903) berkenalan dengan Guru Utama Persatuan Islam (Persis), Ahmad Hassan (1887-1957) yang oleh Natsir disapa dengan nada hormat: Tuan A. Hassan.

Hassan seorang ulama, penulis, juga wiraswastawan. Di rumahnya,  dia membuka percetakan. Untuk mengoperasikan percetakan itu,  Hassan dibantu tiga karyawan. Dua orang zetter,  satu orang drukker.

Saat Natsir berkenalan dengan Hassan, tokoh berdarah Indonesia-India itu sedang menulis “Tafsir Al-Furqan”.

Tiap berkunjung ke rumah Hassan, Natsir menyaksikan tokoh itu sedang menulis, sedang mengoreksi naskah hasil setting, atau sedang membaca. Pokoknya, selalu sedang mengerjakan sesuatu.

Seketika,  Natsir mengagumi Hassan sebagai ulama yang luas pengetahuannya, pekerja keras,  dan pengusaha yang praktis.

Tiap Natsir datang,  Hassan selalu menghentikan kegiatannya dan melayani anak muda itu bertukar pikiran. Ini menimbulkan perasaan tidak enak. Berkali-kali Natsir meminta Tuan Hassan untuk melanjutkan pekerjaannya,  berkali-kali pula Hassan menolak.

Rupanya bagi Hassan, berbincang-bincang dengan Natsir lebih penting dari pekerjaan apapun.

Ceramah Dr. Christoffel

Suatu hari,  guru di kelas 5 AMS memerintahkan semua murid kelas 5 pergi ke gereja untuk mendengarkan ceramah seorang pendeta Kristen Protestan, Dr. Christoffel.  Mau tidak mau, Natsir ikut ke gereja.

Ceramah Christoffel tentang Quran dan Injil,  dan tentang Muhammad sebagai rasul.

Halus dan menarik cara Christoffel menyampaikan pendapatnya, tidak memaki-maki Islam dan Nabi Muhammad, tetapi kesimpulannya: “Kitab Injil yang benar,  dan Isa Al-Masih rasul sesungguhnya.”

Panas hati Natsir mendengar khutbah pendeta itu,  tapi dia tidak bisa menyanggah pendapat Christoffel, karena khutbah tidak mungkin didebat.

Untung keesokan harinya sebagian ceramah Dr. Christoffel dimuat di koran Algemeene Indish Dagblad (AID), sehingga Natsir punya hak dan peluang untuk menjawab Christoffel

Sebagai pelajar kelas 2 SMA,  tentu tidak mudah membantah pendapat seorang Doktor. Natsir pun membaca berbagai buku mengenai Islam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam baik yang berbahasa Arab,  Belanda,  maupun Inggris.

Dalam proses penulisan itu,  Natsir bolak-balik menemui Hassan untuk meminta “petunjuk dan arahan”.

Natsir kecele. Ternyata Hassan tidak mau “menyuapi” Natsir. Dia hanya mau melayani bertukar pikiran,  sesudah itu Hassan menunjukkan kitab dan buku yang perlu dibaca untuk memperkuat argumen Natsir.

Soal tulisan, baik atau buruk,  silahkan Natsir memyusun dan mempertanggungjawabkan sendiri.

Akhirnya tulisan Natsir selesai,  dan dimuat oleh AID. Itulah tulisan pertama Natsir mengenai Islam yang ditulisnya dalam bahasa Belanda.

Sesudah tulisan itu dimuat di AID,  Hassan meminta izin Natsir untuk mencetak dan menerbitkan tulisan itu menjadi buku berjudul “Quran en Evangelie,  Muhammad als Profeet”.

Kelak,  bersama Hassan dan Fachrudfin,  Natsir menerbitkan majalah “Pembela Islam” yang terkenal dengan sikap tegasnya membela ajaran Islam.

Begitulah cara Tuan Hassan mendidik Natsir.

Ini Pinjaman,  Harap Dikembalikan

Sesudah tamat AMS,  Natsir yang lulus dengan nilai baik yang memungkinnya melanjutkan pendidikan dengan beasiswa  di Recht High School (RHS) di Jakarta,  atau di Fakultas Ekonomi di Belanda, atau bekerja dengan gaji 130 gulden/bulan, memilih terjun langsung ke masyarakat dengan mendirikan lembaga pendidikan.

Mula-mula Natsir menyelenggarakan kursus di sore hari untuk para lulusan Hollands Inlandsche Schoolen (HIS,  sekarang Sekolah Dasar) yang tidak bisa melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, sekaran SMP).

Pertama dibuka,  peserta kursus hanya 5 orang. Tanpa sepengetahuan Natsir, kelima peserta kursus itu mempromosikan kursus sore itu ke teman-temannya. Maka,  dari ke hari peserta kursus terus bertambah.

Natsir senang dengan pertambahan peserta kursus, sekaligus risau karena dia belum mampu menambah fasilitas.  Peserta kursus duduk berdesak-desakan.

Di tengah kerisauan Natsir,  suatu sore datang Haji Muhammad Yunus ke tempat kursus.

Haji Yunus adalah pelanggan setia Pembela Islam. Meskipun secara ekonomi tidak terlalu kaya raya,  Haji Yunus dikenal sebagai seorang dermawan. Dia biasa menyumbang uang ratusan gulden untuk perjuangan.

Setelah peserta kursus pulang,  Haji Yunus berbisik: “Belilah empat meja panjang dan bangku. Saya kenal tukang kayu yang bagus dan murah.”

Keesokan harinya Natsir dan Haji Yunus pergi ke tukang kayu.  Setelah tawar menawar disepakati harga satu meja dan bangkunya 4 gulden. Natsir memesan 4 meja. Haji Yunus maju ke depan, dan membayar lunas 16 gulden.

Dalam perjalanan pulang,  Haji Yunus berkata kepada Natsir: “Uang pembayar meja tadi sifatnya pinjaman yang harus Saudara kembalikan.”

Natsir heran. Haji Yunus yang biasa menyumbang ratusan gulden,  meminta uang 16 gulden dikembalikan. Meskipun heran,  Natsir mengangguk: “Insya Allah sesudah peserta kursus membayar.”

Natsir berbaik sangka,  Haji Yunus sedang mengujinya. Menguji kejujuran Natsir. Menguji kesungguhannya di dalam mengembangkan lembaga pendidikan. Memberi tahu anak muda itu,  tidak mudah mencari uang.

Awal bulan,  segera sesudah peserta kursus membayar,  Natsir meluncur ke rumah H. Yunus melunasi uang pembela meja.

Dengan girang,  Haji Yunus menerima uang itu yang langsung dia masukkan ke saku,  tanpa melihat apalagi menghitung.

Haji Yunus menatap Natsir dengan wajah berbinar-binar. Dia menatap Natsir dengan tatapan seorang guru yang gembira melihat muridnya lulus ujian.

Sesudah itu,  Haji Yunus menjadi penopang Pendidikan Islam (Pendis) yang didirikan oleh Natsir.

Natsir bersyukur,  uang Haji Yunus segera bisa dia kembalikan. Seandainya Natsir tidak mengembalikan uang Haji Yunus,  dia yakin dermawan yang budiman itu tidak akan menagihnya secara mendesak apalagi memperkarakan ke pengadilan. Apalah arti uang 16 gulden bagi H. Yunus?

Akan tetapi,  hanya seharga 16 gulden itulah nilai Natsir di mata Haji Yunus. Dan tentulah tidak akan ada lagi hubungan baik antara dirinya dengan sang dermawan.

Ternyata,  hubungan antara manusia tidak dapat semata-mata diukur dengan uang.

“Nama baik,  nama bersih,  itulah sebaik-baiknya modal kehidupan. Jaga dan peliharalah modal itu dalam keadaan bagaimanapun juga,” pesan Natsir.[ Red]

Bagikan Ini :