Muhammad Rizieq/Net

telusur.co.id – Meski Polda Jawa Barat telah menghentikan kasus penodaan Pancasila yang diduga dilakukan pentolan FPI, Al Habib Muhammad Rizieq Bin Husein Shihab, namun hal itu belum cukup untuk memulangkannya dari Arab Saudi.

“SP3 Jabar belum bisa memulangkan Habib Rizieq dari Saudi Arabia,” kata Humas PA 212, Novel Bamukmin kepada telusur.co.id, Sabtu (4/5/18).

Sebab, belum semua kasus yang diduga melibatkan Rizieq di hentikan. Hal itu lah yang belum bisa membuat dirinya pulang ke Tanah Air.

“Pelaporan Habib Rizieq ada enam. Baru satu yang di SP3. Kalau semua SP3, baru Habib Rizieq pulang,” kata dia.

Kendati demikian, ia mengaku mengapresiasi tindakan Polda Jabar yang telah menghentikan kasus yang dilaporkan oleh Sukmawati Soekarnoputri itu. Dia menilai kasus itu memang patut untuk dihentikan.

“Namun kami apresiasi langkah tepat Polda Jabar. Memang seharusnya kasus Habib Rizieq di Polda Jabar harus di SP3, karna memang sangat lemah untuk Habib Rizieq dijerat hukum, dan kami juga berharap semua kasus Habib Rizieq yang juga berada di Polda Metro Jaya dihentikan juga,” kata dia.

Diketahui, sampai hari ini Rizieq Shihab masih berada di Arab Saudi. Dia meninggalkan Indonesia setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus chat mesum oleh Polda Metro Jaya sejak 29 Mei 2017 lalu.

Tenyata, bukan hanya kasus chat mesum dan penghinaan Pancasila saja. Habib Rizieq juga terlibat beberapa kasus seperti Kasus Sampurasun yang dilaporkan oleh Aliansi Masyarakat Sunda. Mereka melaporkan Rizieq Sihab karena dianggap telah menghina dan melecehkan budaya Sunda, pada 24 November 2015.

Kasus dugaan penodaan agama yang dilaporkan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia. Laporan itu tertuang dalam surat laporan polisi dengan nomor LP/6344/XII/2016/PMJ/Dit.Reskrimsus.

Rizieq dilaporkan atas video yang beredar di media sosial berisi ceramahnya yang disebut berlangsung di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, pada 25 Desember 2016. Dalam ceramah itu, Rizieq dianggap menyinggung keyakinan umat Kristiani. Salah satu kalimat dalam video ceramah yang dipermasalahkan berbunyi “Kalau Tuhan beranak, terus bidannya siapa?”.

Kasus palu arit dalam uang baru yang di laporkan oleh Jaringan Anti Intelektual Muda (Jimef) dan Solidaritas Merah Putih (Solmet).

Kasus dugaan penyebaran kebencian yang di laporkan oleh Student Peace Institute dan Rumah Pelita (forum mahasiswa-pemuda lintas agama). [ipk]

Bagikan Ini :