telusur.co.id – Kredit usaha mikro (UMI) yang menjadi salah satu program andalan baru Pemerintahan Jokowi-JK untuk menggerakkan sektor riil dari level terbawah terbukti mampu memperkuat modal usaha bagi anggota koperasi.

Wajar jika kredit dengan skema tersebut banyak diminati pedagang cilik yang selama ini aktif menjadi anggota koperasi karena persyaratannya tak berbelit-belit, sehingga mereka dengan mudah mendapatkan kredit ini.

“Saya mengajukan kredit Rp3 juta buat nambah usaha sembako. Pada Bulan Puasa, orang banyak yang butuh,” kata Ibu Komariah, anggota Koperasi Abdi Kerta Raharja.

Munawaroh, pedagang jajanan pasar juga meminta agar diberikan kredit buat tambahan modal usaha.

Sementara itu Manajer Pemasaran dan Mal Koperasi Abdi Kerta Raharja, Abdul Haer, memperkirakan banyak anggota yang akan mengajukan kredit menjelang Bulan Puasa ini. “Kami sudah antisipasi bakal banyak anggota yang mengajukan kredit,” jelasnya.

Tahun sebelumnya, ia mengaku sempat mengerem kredit saat Bulan Puasa karena khawatir kredit tersebut dipakai buat kebutuhan konsumtif bukan kegiatan produktif.

Namun setelah memantau langsung, pihaknya mengevaluasi kembali dengan membuka kran kredit untuk anggota saat Bulan Ramadhan.

Ia mencontohkan anggotanya yang berjualan dodol di daerah Tangerang yang biasanya hanya menghabiskan beberapa kuintal bahan baku. Pada Bulan Puasa, anggotanya itu bisa menghabiskan berton-ton bahan baku. “Inikan membutuhkan suntikan modal,” jelasnya.

Dengan difasilitasi Kementerian Koperasi dan UKM, Koperasi Abdi Kerta Raharja mendapat guyuran kredit UMI sebesar Rp10 miliar dari Perusahaan Investasi Pemerintah (PIP).

Kredit UMI ini langsung disebar ke para pedagang nasi uduk, bakso, cilok, warung, petani dan sebagainya yang bertebaran di wilayah Banten, Tangerang dan Bogor.

“Maksimal mereka mengajukan kredit UMI Rp5 juta,” tambah Tuti, Manajer Umum Koperasi Abdi Kerta Raharja.

Para pedagang umumnya mengembalikan kredit UMI cukup baik sehingga nyaris tak ada tunggakan. “Alhamdulillah, tak ada yang menunggak alias ngemplang,” jelasnya.

Hal itu mendorong penerimaan yang masuk ke koperasi berkisar Rp1,5 miliar/pekan.

Kepatuhan pedagang mengembalikan kredit UMI tergolong tinggi selain karena kesadaran mereka sendiri, pihaknya juga aktif melakukan pendampingan terhadap para anggota.

“Setelah mendapat kredit UMI, kami tidak lepas begitu saja. Kami tetap mendampingi mereka, sehingga tahu dengan betul kesulitan yang mereka hadapi,” ujarnya.

Oleh karena itu, pihaknya akan mengajukan kredit UMI kembali sebesar Rp15 miliar ke pemerintah dan berharap bisa disetujui dalam waktu dekat. [Red]

Bagikan Ini :