telusur.co.id – Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhayati Ali Assegaf mengaku malu dengan ditangkapnya kader Demokrat, AS dalam kasus suap anggaran.

Waketum Partai Demokrat, itu mengaku heran mengapa selalu partainya yang menjadi bulan-bulanan masyarakat ketika ada anggotanya yang tertangkap KPK. Padahal, partainya telah bersikap tegas terhadap kader yang bermasalah dengan hukum.

“Kita yang tegas dibilang partai terkorup. Sistem sudah kita perbaiki, ini kembali kepada individunya. Saya jadi malu,” ucap Nurhayati di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (8/05/18).

Agar tidak selalu dicurigai, ia mengusulkan agar tunjangan DPR RI ditransfer saja dalam bentuk uang elektronik.

“Saya sudah minta, uang dalam bentuk e-money saja, agar tidak ada lagi tandatangan Rp 2 juta atau Rp 1 juta. Maaf saya harus sampaikan ini. Karena saya malu, kasian anak-anak saya. Jangan e-money hanya diterapkan oleh rakyat kecil saja,” kata Nurhayati.

Diketahui, Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan empat tersangka dalam operasi tangkap tangan yang dilakukan pada Jumat malam (4/5/18).

Salah satu tersangka adalah anggota Komisi XI dari Fraksi Partai Demokrat Amin Santono.

KPK mengungkapkan bahwa Amin Santono diduga menerima hadiah atau janji dana perimbangan keuangan daerah pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan atau APBN-P 2018, terkait dua proyek di Kabupaten Sumedang.

KPK pun mengamankan sejumlah aset dalam OTT tersebut. Logam mulia 1,9 kilogram, Rp 1,844 miliar termasuk Rp 400 juta yang diamankan di Halim, mata uang asing 63.000 dolar Singapura dan 12.500 dolar AS. [ipk]

Bagikan Ini :