PM Mahathir Dan Najib Razak/ Foto : Net
  1. iOleh : Asyari Usman (Ipoh, Malaysia) – Pada usia 92 tahun, mantan perdana menteri Malaysia, Dr Mahathir Mohamad, akan dilantik menjadi perdana menteri. Inilah hasil Pilihan Raya Umum (PRU) yang historis sekaligus sangat aneh di negeri jiran. Koalisi yang menamakan diri Pakatan Harapan (PH) merebut 115 dari 222 kursi di parlemen Malaysia. Koalisi Barisan Nasional (BN) yang berkuasa selama 60 tahun, memperoleh 79 kursi.

Kemenangan historis dicatat oleh Parti Keadilan Rakyat (PKR) yang merebut 104 kursi. Secara de-facto PKR dipimpin oleh mantan wakil PM Anwar Ibrahim yang masih menjalani hukuman penjara. PKR adalah partai terbesar di koalisi PH.

Hampir pasti, Anwar Ibrahim akan menjadi PM dalam waktu beberapa bulan mendatang. Setelah dikeluarkan dari penjara bulan depan, kemudian disusul proses menjadikan dia sebagai anggota parlemen atau minimal sebagai senator, Anwar akan memimpin koalisi PH dan menerima penyerahan kekuasaan PM dari Mahathir.

Suasana untuk mengantarkan koalisi PH sebagai pemenang di PRU ke-14 di Malaysia ini terasa mirip dengan suasana #2019GantiPresiden di Indonesia. Faktor-faktor penyemangat kubu oposisi di Malaysia mirip dengan hal-hal yang menjadi keprihatinan pihak oposisi di Indonesia.

Sebagai contoh, Mahathir Mohamad sejak lima tahun ini sangat mencemaskan investasi RRC yang memaksakan berbagai persyaratan yang merugikan tuan rumah. Inilah yang dikampanyekan oleh Mahathir. Hal lainnya adalah korupsi. Sejak setahun ini PM Najib Razak berjuang keras untuk menangkis tuduhan oposisi bahwa dia menggelapkan ratusan juta dollar dana 1Malaysia Development Bank (1MDB). Ada juga label “pro-China” yang disematkan pada Najib Razak. Juga sangat keras isu kenaikan harga-harga, termasuk harga BBM dan kebutuhan sehari-hari.

Ramuan kemenangan oposisi Pakatan Harapan (PH) di Malaysia ini, persis sama dengan perasaan rakyat Indonesia saat ini. Di negeri kita yang tercinta, ada rasa pro-RRC yang berlebihan. Rakyat sangat gelisah menyaksikan sepak-terjang investasi China. Terasa bagaikan menjual negara ini ke pihak asing. Selain itu, rakyat di sini juga sudah sangat muak dengan korupsi. Termasuk skandal korupsi besar yang tidak diusut oleh penegak hukum. Tak ketinggalan, rakyat Indonesia juga merasakan beban hidup yang makin berat karena kenaikan harga-harga.

Di PRU-14 ini, meskipun tidak ada kampanye #2018GantiPerdanaMenteri tetapi semangat rakyat Malaysia yang terpaparkan selama setahun ini sama persis dengan tekad rakyat Indonesia yang terwakilkan dalam tagar #2019GantiPresiden.

Ada tercicipi rasa Pilpres 2019 di dalam proses PRU-14 Malaysia.

Namun harap dicatat bahwa Najib Razak adalah seorang politisi kawakan. Beliau sangat berpengalaman. Najib bukan politisi karbitan. Bukan politisi yang dimunculkan secara tiba-tiba. Dia bukan orang yang dipoles-poles agar rakyat Malaysia senang. Najib bukan politisi yang dinaikkan dengan cara blusukan masuk got atau gorong-gorong.

Artinya, Najib Razak tahu persis bagaimana cara menang. Dia telah berusaha sekuat tenaga untuk menang termasuk melakukan macam-macam strategi, mulai dari strategi yang normal maupun yang aneh untuk melemahkan oposisi.

Tetapi, Najib ingin menang secara ksatria, gentlement. Dia tidak ingin menang melalui, misalnya, pencurangan hasil pemilu. Karena itu, beliau legowo menerima kekalahan sesuai keputusan rakyat Malaysia.

Kita berharap Pileg dan Pilpres 2019 nanti berjalan secara terhormat, tanpa niat curang dari pihak mana pun. Tanpa rekayasa. Tanpa kepanikan melihat gerakan konstitusional seperti #2019GantiPresiden atau gerakan tandingannya.

(Penulis adalah wartawan senior)

Bagikan Ini :