Sumber: Istimewa

Oleh: Azmi Syahputra

Kejadian bom bunuh diri pagi ini, di Surabaya, merupakan tindakan pengecut. Pelaku adalah mesin pembunuh, penyebar pemicu kebencian dan mencoba merusak persatuan bangsa.

Melihat kejadian bom yang terjadi di 3 lokasi dalam waktu berdekatan, artinya diketahui pelaku dan ada keinginan yang sama (willens en wetens) dan perbuatan ini sangat sistematis. Perbuatan ini direncanakan secara matang, tentun ada aktor intelektualnya.

Jika, para pengeksekusi dilapangan ini adalah pelaku pembantu, pasti ada pelaku utamanya. Pelaku pembantu ini korban cuci otak, yang didoktrin sempit atau disaranai oleh pelaku utama.

Mereka ini, orang-orang yang gagal dalam beradaptasi dan dimanfaatkan oleh si aktor intelektual.

Karenanya, polisi dan seluruh komponen alat negara harus segera bergerak, terarah, dan bekerja optimal untuk mengungkap siapa aktor intelektualnya. Orang-orang atau kelompok ini yang berbahaya harus dihukum mati karena kejahatan ini hanya dapat dituntaskan dengan hukuman mati (crimina morte extinguuntur)

Perbuatan yang sadis dan kejam ini, sangat terstruktur sistematis dan masif yang digerakkan dengan sengaja oleh pelaku, actor utama, maka harus ditumpas pelaku brutal ini yang menjadikan tempat-tempat ibadah atau simbol-simbol agama. Hubungan manusia dan ketuhanan juga dijadikan sasaran untuk mencapai tujuannya, dan merusak persatuan bangsa.

Ini sangat menciderai nilai kemanusiaan, maka harus dilawan sampai tuntas. Ini bentuk teror yang tujuannya untuk menakuti, menteror dan penghianatan kepada bangsa yang mengatasnamakan kepentingan sesaat atau atas nama apapun.

Masyarakat, diharapkan jangan terpengaruh, harus terus bersatu dan menjaga persatuan. Ini kuncinya agar kita sesama anak bangsa tidak terprovokasi.(***)

*Ketua Asosiasi Ilmuwan Praktisi Hukum Indonesia (Alpha)

Bagikan Ini :