telusur.co.id – Ikatan Alumni Lemhanas (IKAL) Pusat mendesak DPR untuk segera merampungkan RUU Teroris. Hal itu, lantaran UU Teroris saat ini tak membuat jera para pelaku.

“Mengingat UU lama agak lemah sehingga penanganan terosisme menjadi lambat dan sudah jatuh banyak korban, maka UU terorisme diperlukan agar diperoleh payung hukum yang kuat dalam memerangi terorisme sampai ke jaringan sel-sel yang paling dalam,” ujar Ketua Umum IKAL Agum Gumelar, Senin (14/5/18).

UU terosime yang baru juga diharapkan dapat mencegah berkembangnya bibit-bibit terosime di Indonesia karena UU Terorisme yang baru nantinya memiliki daya tangkal terhadap berkembangnya sel-sel terorisme.

Tak lupa Jenderal TNI Purnawirawan ini juga mengungkapkan bela sungkawa yang dalam atas jatuhnya korban tewas atas aksi teroris di 3 gereja di Surabaya pada Minggu pagi (13/5) yang menewaskan 10 korban jiwa.

“Saya Agum Gumelar selaku Ketua Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas IKAL menyatakan rasa duka cita mendalam seraya berdoa semoga arwah para korban diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa, sesuai amal baktinya serta diampuni segala dosanya. Kepada keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan kekuatan iman dan ketabahan hati menerima cobaan yang berat ini,” imbuhnya.

Agum menyerahkan penyelesaian teror di Surabaya pada aparat kepolisian dan jajaran TNI, sehingga tidak mengganggu proses pembangunan Indonesia ke depan.

Selanjutnya Agum berharap agar TNI-Polri semakin solid dengan adanya serangkain teror yang terjadi di Indonesia belakangan hari ini. Agum yakin soliditas TNI-Polri merupakan jaminan tetap tegaknmya Negara Kesatuan Republik Indonesia NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Menurut Agum, sebesar apupun ancaman yang datang jika TNI-Polri solid, NKRI akan tetap utuh dan tegak berdiri.

“Sebagai sesama komponen bangsa Indonesia yang cinta damai, para purnawirawan khususnya, tidak tinggal diam untuk ikut serta proaktif membantu sesuai kapasitas masing-masing menanggulangi masalah radikalisme dan terorisme. Kita harus mengambil pelajaran dari persitiwa yang terjadi di Afganistan, Suriah, Irak, dan Uni Soviet,” tegasnya.[far]

Bagikan Ini :