Azmi Syahputra/Istimewa

Oleh: Azmi Syahputra

MELIHAT kejadian teror yang terjadi beberapa hari ini maka terlihat pola perubahan pelaku teror dengan modus mempergunakan perempuan sekeluarga dengan anaknya.

Selain sebagai bentuk pola strategi pengalihan agar aparat lengah karena melihat adanya anak-anak, ini juga sekaligus bentuk depresi perempuan atau istrinya tersebut. Karena dia menyadari jika suami mati dengan melakukan teror maka ia dan anak-anaknya hidup dikucilkan oleh lingkungan masyarakat.

Sehingga perempuan dan anaknay itu diajak untuk melakukan teror atas nama “perjuangan yang suci”.

Lihat pula bagaimana seorang ibu meledakkan anak perempuannya sendiri dengan atas nama “perjuangan suci”. Sehingga bagaimana bisa kita mau ia berharap melindungi manusia lain?

Ini berkait tentang mindset, cara pandang dan pemahaman yang berbeda.

Disisi lain kita tidak bisa bilang harus manusiawi kepada pelaku teror ini toh mereka saja tidak manusiawi terhadap anaknya sendiri. Ia tega mengorbankan keluarganya dalam hal ini istri dan anaknya.

Jika dilihat data dari para pelaku mereka adalah peserta pembantu, mereka ini tidak memimpin melainkan mengikuti perintah pelaku utama atau pelaku intelektualnya (accesorium non ducit, sed sequitur, suum principale) maka kepolisian dan aparatur harus segera menyisir nama-nama keluarga atau kelompok yang dianggap terkait dengan kelompok teror sekaligus mengungkap pelaku utamanya.

Karena ini dalam keadaan serius dan darurat maka penanganan dan hukuman kepada pelaku teror dan pelaku intelektualnya harus dihukum mati dengan sangat segera jangan ditunda dan harus diisolasi karena kalau ditunda akan membuat sel-sel baru.

Dalam asas hukum dikenal dalam keadaan terpaksa memperbolehkan apa yang tadinya dilarang oleh hukum (necessitas facit licitum quod alias non est licitum) karenanya dalam hal ini mari kita dorong dan bantu polisi dan aparatur untuk mengungkap pelaku utamanya dan terapkan hukuman mati karena kejahatan serius dan membahayakan jiwa ini hanya bisa dituntaskan dengan hukuman mati yang segera. [***]

*Penulis adalah Ketua Asosiasi Ilmuwan Praktisi Hukum Indonesia (Alpha)

Bagikan Ini :