Foto: YouTube

telusur.co.id – Keterlibatan anak dalam aksi pemboman di Jawa Timur, dikarenakan sejak kecil si anak sudah didoktrin paham radikal oleh orangtuanya.

Demikian disampaikan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, Jasra Putra, kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (15/5/18).

Karenanya, KPAI mengutuk orangtua yang membawa anak dalam aksi tak berperikemanusiaan tersebut. “Kita semua mengutuk keluarga yang membawa anak dalam aksi bom bunuh diri ini,” kata dia.

Dengan keadaan yang masih lugu, anak-anak sendiri tentu tidak bisa memilih dan akhirnya menelan habis apa yang disampaikan oleh orangtuanya.

Jasra mendorong pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama dan Kementerian Sosial agar memberikan pendampingan kepada anak yang menjadi korban.

Menurutnya, anak-anak ini perlu dipulihkan atau direhabilitasi rasa traumatik mereka setelah insiden pengeboman.

“Kalau tidak direhab dengan baik ini akan menjadi trauma yang luar biasa bagi dirinya. Apalagi dia melihat sendiri orangtuanya meledakan diri.”

Tak hanya itu, kata Jasra, pemuka agama juga harus turun tangan untuk memberikan nilai-nilai ke Islaman dan Ke Indonesiaan yang benar kepada anak.

“Pemahaman tentang nilai-nilai dan konteks keindonesian, NKRI dan bagaiamana nilai kepancasilaan,” kata Jasra. [ipk]

Bagikan Ini :