Gedung KPK/telusur

telusur.co.id – Komisi Pemberantasan Korupsi menjadwalkan pemeriksaan terhadap Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Askolani.

Pemeriksaan, terkait penyidikan kasus suap pembahasan dan pengesahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKAKL) dalam APBN-P 2016 untuk Bakamla RI.

Hal itu sebagaimana disapaikan Pelaksana Harian (Plh) Kepala Biro Humas KPK, Yuyuk Andriati saat dikonfirmasi, Selasa (15/5/18).

“Penyidik hari ini dijadwalkan memeriksa Dirjen Keuangan Kementerian Keuangan Askolani sebagai saksi untuk tersangka Fayakhun Andriadi,” kata dia.

Sebelumnya, KPK pada Senin (14/5) juga telah memeriksa politisi Partai Golkar Yorrys Raweyai juga untuk tersangka Fayakhun Andriadi.

Seusai diperiksa, Yorrys mengaku dikonfirmasi soal pemberian uang sebesar Rp 1 miliar dari Fayakhun.

Fayakhun sendiri telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus tersebut pada 14 Februari 2018.

Anggota DPR RI periode 2014-2019 dari Fraksi Partai Golkar itu diduga menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga bahwa dia atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya terkait dengan proses pembahasan dan pengesahan RKAKL dalam APBN Tahun 2016 yang akan diberikan kepada Bakamla RI.

Fayakhun disangkakan menerima uang senilai Rp12 miliar dan 300 ribu dolar AS ketika masih menjabat sebagai anggota Komisi I DPR. Saat ini, ia sudah tidak lagi berada di komisi tersebut, tapi duduk di Komisi III yang bermitra dengan KPK.

Dia diduga menerima fee atau imbalan atas jasa memuluskan anggaran pengadaan satelit monitoring di Bakamla pada APBN tahun anggaran 2016 sebesar 1 persen dari total anggaran Bakamla senilai Rp1,2 triliun atau senilai Rp12 miliar dari tersangka Fahmi Darmawansyah melalui anak buahnya M Adami Okta secara bertahap sebanyak empat kali.

Selain itu, Fayakhun juga diduga menerima uang sejumlah 300 ribu dolar AS.

Fayakhun disangkakan melanggar 12 huruf a atau pasal 12 huruf b atau pasal 11 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Pasal itu mengatur mengenai pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya dengan hukuman minimal 4 tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara dan denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp1 miliar. [ipk]

Bagikan Ini :