telusur.co.id – Nilai Dollar Amerika Serikat beberapa pekan ini sudah menjadi raja dan semakin menjepit rupiah. Tercatat dari situs resmi Bank Indonesia, mencapai 14, 094. 000 rupiah per USD.

Nilai ini merupakan nilai yang tinggi sejak 25 April 2018 yang saat itu berada di poisi 13.888 rupiah per USD dan 9 Mei 2018 yang sempat tembuh diangka 14.074 rupiah per dolar AS.

Ekonom senior Ichsanuddin Noorsy mengatakan, nilai rupiah bisa semakin tertekan hingga 16.000 rupiah per USD dan sangat membahayakan kondisi ekonomi Indonesia.

“Sudah saya katakan dua tahun yang lalu. Dalam perekonomian di Indonesia saat ini sudah masuk ke dalam lampu kuning karena beberapa fundamental makronya melemah disamping posisi hutang jga meningkat. Bisa 16.000 ribu rupiah. Itu berbahaya,” sebutnya kepada wartawan, Rabu (16/5/18).

Dirinya juga menuturkan dengan kredit yang masih melambat, daya beli semakin berkurang dan pertumbuhan ekonomi masih bergantung pada konsumsi investasi, penguatan rupiah terhadap dollar akan terasa berat.

“Kondisi tidak bagus kalau pertumbuhan tergantung pada konsumsi dan konsumsi kita sebagian import. Artinya suka tidak suka kita berhadapan dengan struktur perekonomian yang tidak sehat. Jadi bahasa sederhananya ada masalah dalam fundamental makronya,” terang Ichsan

Seharusnya, lanjut Ichsan, Indonesia mempunyai semacam penangkal gelombang yang dapat melindungi negara dari gelombang tsunami krisis ekonomi.

“Artinya kita punya kesalahan sistim. Sehingga adanya gelombang besar terkena tsunami ya habis. Tiap negara juga punya pelindung menahan ombak,” kata Ichsan

Oleh sebab itu, dirinya menyarankan Bank Indonesia menaiki suku bunga hutang untuk menyelematkan rupiah dari kuasa nilai dollar.

“Memang salah satu caranya ya menaikan suku bunga. Tidak ada cara lain. Instrumen yang dimiliki BI saat ini ya Cuma naikan suku bunga. Meski sifatnya hanya menenangkan,” ungkapnya kembali.[far]

Bagikan Ini :