Foto: net

Oleh: Mustadin Taggala

SECARA umum, Puasa dan Pemilu yang didalamnya ada kontestan politik (Capres-cawapres, Caleg, peserta Pilkada) adalah dua hal yang jika dilihat secara langsung tidak memiliki kaitan tertentu.

Akan tetapi hal tersebut berbeda bagi masyarakat Indonesia. Puasa tahun 2018 ini dan puasa tahun 2014 yang lalu bertepatan dengan suasana menjelang “tahun politik”. Tahun dimana pesta demokrasi bangsa Indonesia.

Aktivitas bulan puasa seringkali menjadi “tunggangan” empuk untuk mendulang popularitas dan meraih simpati calonpemilih, baik dengan pola safari ramdhan, maupun secara langsung mengundang buka puasa, taraweh bersama dan kegiatan-kegiatan terkait dengan Ramadhan lainnya.

Puasa juga bisa menjadi momentum yang tepat untuk merefleksi setiap kegiatan keseharian umat Islam secara menyeluruh. Termasuk merefleksi prilaku para capres-cawapres, calon anggota legislatif, Pilkada dan para calon pemilih nantinya.

Puasa yang dimana dijelaskan oleh Al Quran sebagai momentum pencapaian taqwa bagi umat Islam harus betul-betul direpresentasikan dalam menghadapi pemilu nantinya.

Ada beberapa hal yang dapat dimaknai dalam berpuasa bagi para kontestan pemilu, antara lain:

Pertama; Puasa mengajarkan untuk selalu merasa “diawasi” oleh Allah SWT semestinya membawa calon pemilih untuk mengejawantahkannya untuk tidak ingin menerima bentuk “kecurangan” yang bisa saja muncul. Begitupun dengan para kandidat anggota legislatif semestinya merefleksikan dalam dirinya untuk merasa diawasi oleh Allah SWT agar tidak terbesit dalam hatinya untuk melakukan penyimpangan dalam merebut suara pemilih nantinya.

Kedua; Puasa mengajarkan kita untuk menahan diri. Menahan diri dari yang halal di bulan yang lain, apalagi terhadap perbuatan yang haram atau yang dilarang oleh Allah SWT. Makna menahan diri ini jika direfleksikan adalah kemauan dari semua pihak untuk menahan diri agar mampu tetap berjalan di jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT. Sehingga Pemilu 2019 nanti semua pihak dapat menahan diri dari segala perbuatan yang dapat mencederai keimanan dan ketaqwaan yang telah dilatih dalam bulan ramadhan ini.

Ketiga; Bisa kita ambil dan direfleksikan dalam menghadapi Pemilu 2019 ialah kepekaan hati. Kepekaan hati membuat setiap ummat Islam yang ingin menghadapi kontestasi akan selalu mengedepankan tenggang rasa terhadap sesama calon baik yang satu agama maupun berbeda agama. Jika kepekaan hati dapat diasah di bulan ramadhan ini, niscaya perilaku para pendukung calon dan calon anggota legislatif, calon kepala daerah, bahkan capres dan cawapres itu sendiri semakin “lembut” dalam menghadapi terkotak-kotaknya masyarakat dalam dukung mendukung nantinya, dan akhirnya akan tercapai “harmonisasi” dan kedamaian dalam persaingan.

Semoga bulan puasa kali ini membawa keberkahan dunia dan akhirat sehingga kualitas kehidupan sosial dan kehidupan keberagamaan kita semakin baik setelah menempuh bulantarbiyah tahun ini. Wallahua’lam bissawab. [***]

*Penulis adalah Ketua Alumni Pondok Pesantrean As’diyah Wilayah DIY, juga Kasubid Promosi Kepemudaan Kemenpora RI

Bagikan Ini :