foto net

telusur.co.id – Sikap Presiden Mesir Abdel Fattah Al-Sisi patut diacungi jempol dan didukung dunia internasional, karena sisi kemanusiaannya yang cukup tinggi. Hal itu terlihat dari sikapnya yang membuka perbatasan Rafah dengan Jalur Gaza selama bulan suci Ramadan.

Perintah untuk membuka jalur perbatasan Rafah dengan Jalur Gaza langsung diucapkan Al sisi melalui akun Twitter resminya. Akun Twitter Sisi menyebutkan pembukaan penyeberangan akan meringankan beban saudara-saudara di Gaza.

Perbatasan dengan wilayah Palestina sebagian besar tertutup namun terbuka secara berkala. Ini akan menjadi pembukaan tunggal terpanjang dalam beberapa tahun.

Kelompok Hamas menguasai Gaza, tetapi bukan pada penyeberangan yang terpenting, Rafah dengan Mesir dan Erez dengan Israel. Mereka menyerahkan kendali atas penyeberangan itu akhir tahun lalu kepada rivalnya, Otoritas Palestina yang bermarkas di Tepi Barat, dalam kesepakatan rekonsiliasi yang ditandatangani di Kairo.

Mesir menutup perbatasan untuk waktu yang lama setelah serangan terhadap pasukan keamanan Mesir di Semenanjung Sinai yang meningkat pada tahun 2013, yang kemudian pejabat Mesir menyalahkan militan Palestina dari Gaza untuk beberapa dari mereka.

Berhubungan dengan situasi di Palestina, Dewan Menteri Luar Negeri Arab, Kamis (17/5), mempercayakan Liga Arab untuk menyusun rencana guna membalas AS atau negara lain yang mengakui Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel atau memindahkan kedutaan mereka ke kota tersebut.

Dewan itu, yang mengakhiri pertemuan darurat Liga Arab di tingkat menteri luar negeri di Ibu Kota Mesir, Kairo, menuntut organisasi pan-Arab tersebut untuk membentuk komite ahli independen internasional guna menyelidiki pelanggaran dan kejahatan baru-baru ini yang dilakukan oleh pasukan Israel terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza. Tak kurang dari 63 orang Palestina tewas dan ratusan orang lagi cedera akibat perbuatan pasukan Israel itu.

Dewan tersebut kembali menyampaikan penolakan dan pengutukannya terhadap keputusan AS untuk mengakui Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel dan pemindahan Kedutaan Besarnya ke kota suci yang menjadi sengketa itu, demikian laporan Xinhua –yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat siang.

Pada Senin pasukan Israel membunuh puluhan warga Palestina yang protes di perbatasan Gaza ketika Amerika Serikat membuka kedutaannya di Yerusalem, memindahkan misi diplomatiknya dari Tel Aviv di Israel ke kota suci yang diperebutkan tersebut. (ham)

Bagikan Ini :