PUASA itu berarti melakukan perlawanan atas perbudakan nafsu jasmani dan ruhani. Perbudakan nafsu yang paling kentara biasanya diwujudkan dalam bentuk prilaku makan dan minum.

Pada urusan makan dan minum Allah SWT memerintahkan:

Pertama, agar kita semua mengkonsumsi barang yang halal lagi baik. Perintah ini ditujukan kepada semua manusia tanpa kecuali dan tanpa memandang agamanya.

Kedua , bagi manusia yang beriman perintah-Nya adalah agar makan dan minum dari rizki yang baik, kemudian diminta bersyukur dan hanya kepada-Nya menyembah.

Bagi manusia beriman, barang konsumsinya tidak lagi menggunakan kriteria halal, urusan makanan halal dianggap sudah selesai dan menjadi sebuah keniscayaan, label halal tidak perlu. Baginya urusan makanan sudah mafhum adanya.

Bila ada manusia yang masih mengkonsumsi barang tidak halal berarti belum termasuk dalam kategori manusia beriman.

M. Quraish Shihab dalam Kitab Al-Misbah ketika menafsirkan surat Al-Baqoroh ayat 172, menuliskan bahwa pada urusan makan dan minum ajakan Allah kepada orang beriman sedikit berbeda dengan ajakan kepada seluruh manusia.

Kepada orang mukmin tidak lagi disebut kata halal, karena keimanan yang bersemi di dalam hati merupakan jaminan kejauhan mereka dari yang tidak halal. Perintahnya justru agar orang mukmin bersyukur atas rizki yang dinikmatinya.

Syukur adalah mengakui dengan tulus bahwa anugerah yang diperoleh semata-mata bersumber dari Allah sambil menggunakannya sesuai tujuan dan menempatkannya sebagaimana mestinya.

Dalam konteks ini juga berlaku bagi manusia yang menjalankan puasa, bahwa hanya orang berimanlah yang diwajibkan menjalankan puasa.

M. Quraish Shihab menuturkan bahwa ayat puasa dimulai dengan ajakan kepada setiap orang yang memiliki iman walau seberat apapun. Al-Qur’an memanggilnya dengan mesra. “Wahai orang-orang yang beriman”.

Kewajiban puasa dimaksudkan agar manusia terhidar dari segala macam sanksi dan dampak buruk dalam perkara dunia maupun akherat. Mengenai manfaat puasa yang begitu hebat digambarkan, seandainya saja Allah SWT tidak mewajibkan manusia itu berpuasa maka dirinya sendiri yang akan mewajibkannya.

Mustofa Bisri dalam puisinya mengatakan, “ Sucikan kelaminmu berpuasalah, sucikan tanganmu berpuasalah, sucikan mulutmu berpuasalah, sucikan hidungmu berpuasalah, sucikan kepalamu berpuasalah, sucikan hatimu berpuasalah, sucikan kakimu berpuasalah, sucikan dirimu berpuasalah.[***]

Bagikan Ini :