Kewajiban puasa Ramadhan sebulan penuh turun pada Bulan Sya’ban tahun kedua Rasulullah SAW tinggal di Madinah, sebelum itu kaum muslimin telah melakukan puasa selama tiga hari dalam sebulan.

Ramadhan disebut satu bulan, permulaan dan penutupannya ditandai oleh peredaran Bulan sedangakan hitungan sehari berpuasa mengikuti terbit dan terbenamnya Matahari. Kondisi ini menyebabkan berbedanya hitungan waktu berpuasa dalam sehari di berbagai belahan bumi.

Muslimin di kota Petrograd yang kemudian berubah menjadi Leningrad dan kini di sebut Sint Petersburg mesti berpuasa selama 22 jam dikala musim panas.
Di jantung kota Sint Petesburg, dekat benteng Petropavlovskaya yang pada bagian depannya terbentang taman Gorkorvskaya berdiri sebuah mesjid.

Pembangunan mesjid ini dimulai tahun 1910 atas izin Tsar Nikolas II pada 3 Juli 1907. Para pekerja pembangunannya kebanyakan tenaga migran asal daerah sekitar Uni Sovyet yang ketika itu sedang bekerja di pusat galangan kapal sungai Neva.

Arsitek mesjid bernama, Nikolay Vasilyev, Stepan Krichinskiy dan Alexander Von Gogen menserasikan bangunan ini antara ornamen bergaya ketimuran dengan mosaik warna biru toska untuk bangunan kubah, mihrab imam, gerbang dan pernik – pernik lainnya. Biaya bangunan sebanyak 750 ribu rubbels ditanggung oleh Said Abdul Ahad, seorang amir dari Bukhoro (Uzbekistan)

Mesjid ini memiliki kubah biru setinggi 39 meter, menara kembar setinggi 49 meter, resmi dibuka pada tahun 1913 berbarengan dengan hari ulang tahun kekaisaran Rumanov ke 300, terkenal dengan nama Mesjid Biru.

Sayangnya, pasca revolusi Bolshevic yang meruntuhkan kekuasaan Nikolas Tsar II. Mesjid ini oleh pemerintahan Komunis ditutup dan berubah peruntukannya menjadi gudang barang –barang rongsokan perang dunia kedua.

Sewaktu Presiden Sukarno bertemu Nikita Kruschev dalam kunjungan kesini di tahun 1956, mesjid ini ditemukan dan di buka kembali atas permintaan Presiden RI pertama itu.

Puasa itu memang perjuangan, alkisah suatu hari pada sebuah kampung di bulan Ramadlan, ketika matahari sedang terik-teriknya, buat orang yang sedang menahan haus dan lapar tentu menjadi saat-saat menggelisahkan.

Dikampung ini hidup seorang kiai berpengaruh, karismanya sangat kuat, orang – orang menyebut kiai berusia senja ini dengan – Guru Alim – (orang berilmu/alim yang sudah tua).

Beberapa meter dari rumah Kiai, tingga seorang seorang pemuda. Supaya gampang mengingatnya, sebut saja namanya Jaya Perwira. Kerjaan sehari-harinya berjualan makan. Pada hari –hari biasa etalase warung di depan rumahnya berjejer gorengan ikan kembung, sambal balado, goreng ayam, rendang daging dan sejumlah laukan lainnya.

Ditengah kesibukan mengelola warung kegiatannya terhadap soal-soal keagamaan dalam kondisi apapun dilakoninya. Pernah suatu saat Perwira diserahi tugas menyelenggarakan pengajian pemuda ormas kemasyarakatan, jabatan sekretaris dipegangnya, padahal waktu itu isterinya sedang hamil tua.

Entah apa pasalnya, suatu hari di bulan Ramadlan Perwira tak berpuasa, persis tengah hari tutup lemari warung dibukanya, terdapat semangkuk rendang yang sangat menantang.

Disambarnya piring, kemudian diisi dua centong nasi dan duduklah Perwira di balik pintu dapur menyantap nasi berlauk rendang ditengah laparnya orang yang tengah berpuasa.

Ketika habis setengah piring dari balik pintu terdengar Assalamu’alaikum. Megap megap Perwira menjawab, maklum dimulutnya penuh kunyahan nasi.
Begitu pintu dibuka , “Masya Allah”, kata Perwira , ternyata Guru Alim, orang yang sama sekali diluar dugaannya datang berkunjung.

Perwira yang ketika Sekolah Dasar gemar bermain sandiwara, cepat-cepat meremas nasi diatas piring dan dipegangnya potongan- potongan rendang itu, lalu mulutnya berbunyi ….ker, ker, ker, ker, ker …….. Dan rendang itu berterbangan persis seperti mengempani ayam-ayam. Mana sih ayam-ayam , kok diberi makan tak muncul juga, teriaknya nyaring.

Guru Alim senyum – senyum menyaksikan tingkah gelisah Perwira . Sejak itu dia terkenal dengan julukan Perwira Rendang Terbang.

Bagikan Ini :