Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah/Net

telusur.co.id – Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah menulisakan sebuah catatan di akun Twitter miliknya yang sudah terverifikasi, @Fahrihamzah, dengan tagar #AkuKacungAllah.

Pada cuit pertama yang terpantau telusur.co.id, Minggu (27/5/18), Fahri Fahri Hamzah mengaku tagar tersebut ia bisikkan kepada dirinya sendiri di pagi hari.

“#AkuKacungAllah, Begitu aku berbisik pada diriku pagi ini, Ramadhan ke-11 memasuki sepuluh ke-2 yang penuh ampunan. Di luar, orang sedang berbincang tentang kacung yang lain. Kacung2 manusia yang latah dan tak berdaya. Manusia saling memangsa,” tulis Fahri.

Lantas, dirinya memberikan pengertian kata “kacung” yang saat ini dianggap sebagai tanda ketertinggalan hingga hilangnya kemerdekaan.

“Kacung itu, bahasa Jawa yang baik, jadi nama anak laki-laki artinya pesuruh, tapi kita telah memberi makna politik. Kacung, jongos dan sejenisnya adalah pertanda ketertinggalan, ketidakberdayaan dan ketertindasan. Hilangnya kemerdekaan. #AkuKacungAllah,” cuit Fahri lagi.

Kemudian, Fahri menyinggung pimpinan tertinggi Indonesia, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Fahri mengatakan jika Jokowi bukanlah “kacung”. Oleh karenanya, Jokowi harus sadar dan jangan sampai ada yang bisa mengatur dirinya, karena ialah pemegang tampuk kuasa tertinggi bangsa Indonesia.

“Pak jokowi, bapak bukan kacung sampai bapak sadar bahwa iman meminta kemurnian dan kita semua adalah hamba Allah saja. Jangan ada yang bisa mengatur karena bapak pemimpin tertinggi. Di atas bapak hanya ada Allah SWT. #AkuKacungAllah,” tulis Fahri.

Ada 10 Kultwit yang dituliskan Fahri, berikut twitt lengkap Fahri Hamzah terkait hal tersebut;

#AkuKacungAllah, Begitu aku berbisik pada diriku pagi ini, Ramadhan ke-11 memasuki sepuluh ke-2 yang penuh ampunan. Di luar, orang sedang berbincang tentang kacung yang lain. Kacung2 manusia yang latah dan tak berdaya. Manusia saling memangsa.”

Kacung itu, bahasa Jawa yang baik, jadi nama anak laki-laki artinya pesuruh, tapi kita telah memberi makna politik. Kacung, jongos dan sejenisnya adalah pertanda ketertinggalan, ketidakberdayaan dan ketertindasan. Hilangnya kemerdekaan. #AkuKacungAllah.”

Dan makna yang mengikutinya, melahirkan perasaan ditindas, dikendalikan, dipakai, dan hilang ya kemerdekaan. Maka seorang politisi mengatakan, “kita bukan bangsa kacung!” Atau seorang anak ingusan mengatakan, “jokowi kacung gua!”. Ada apa dengan kacung? #AkuKacungAllah.”

Aku mencoba membaca keadaan manusia pada zaman ketika kita ingin saling mendominasi. Mungkin karena kita terancam oleh kecepatan kata-kata dan khayalan menjadi kenyataan sehingga kita terasing dan gagal mencari teman sejati. Ini alienasi. #AkuKacungAllah.”

Mendominasi itu tidak baik. Perbudakan telah ditolak oleh Ummat manusia. Meng-kacung-kan orang itu jahat. Tapi lebih baik lagi kalau kita melahirkan kesadaran tentang Jatidiri yang kuat. Bahwa manusia itu merdeka dan kita adalah pelopor kemerdekaan itu. #AkuKacungAllah.”

Itulah keseluruhan sejarah Indonesia, sejarah tentang belajar menjadi diri sendiri, menemukan makna kemerdekaan sejati, lalu bersatu, melawan dan merdeka serta mempertahankannya sampai titik darah terakhir. Kita Gak peduli yang penting kita merdeka atau mati. #AkuKacungAllah.”

Mahal kemerdekaan itu, diproklamasikan #9Ramadhan1334 atau dua hari lalu. Tapi lebih mahal kesadaran menjadi manusia merdeka sebab itukah kesadaran yang akan menjaga Indonesia dari kemungkinan kolonial baru. #AkuKacungAllah.”

Menjadi manusia merdeka yang bebas adalah kesadaran inti dalam iman. Sebab hanya dengan cara itu kita memurnikan ikatan dengan Tuhan. Inilah sejatinya tauhid. “Inilah ciri insan kamil” kata Bung Karno dalam suatu peringatan maulid di Istana negara. #AkuKacungAllah.”

Maka terimalah aku atau siapapun menjadi manusia merdeka. Manusia yang akan datang kepada Allah kelak di akhirat dengan pertanggungjawaban merdeka. Bukan mereka yang dipenuhi rasa takut sehingga tak berani bertanggungjawab sendiri. #AkuKacungAllah.”

Pak jokowi, bapak bukan kacung sampai bapak sadar bahwa iman meminta kemurnian dan kita semua adalah hamba Allah saja. Jangan ada yang bisa mengatur karena bapak pemimpin tertinggi. Di atas bapak hanya ada Allah SWT. #AkuKacungAllah.”

[ipk]

Bagikan Ini :