Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahudin Uno/telusur.co.id

telusur.co.id – Pernyataan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Sandiaga Uno yang menyamakan kegagalan ekonomi Malaysia saat diperintah bekas Perdana Menteri Najib Razak dengan situasi ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Joko Widodo, tidaklah salah.

Sebab, Sandiaga berbicara dalam kapasitasnya sebagai politikus Partai Gerindra, bukan sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.

“Boleh saja, Sandi kan berbicara bukan sebagai Wakil Gubernur, tetapi sebagai orang partai,” kata Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Arief Puyuono kepada telusur.co.id, Selasa (29/5/19).

Menurut Arief justru yang tidak boleh adalah, seorang Menteri, apalagi bukan politikus, mengurusi atau mengkritisi partai oposisi.

“Misalnya Luhut (Luhut Binsar Panjaitan, Menko Kemaritiman), Luhut kan bukan orang partai. Kalau Mas Tjahjo (Tjahjo Kumolo, Menteri Dalam Negeri) mengkritisi, yang bukan pekerjaannya,” kata dia.

Sebelumnya, Tjahjo Kumolo menganggap Sandiaga tidak etis, lantaran menyamakan kegagalan ekonomi Malaysia pimpinan Najib Razak dengan ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Joko Widodo.

“Saya kaget sebagai seorang wagub mewakili pemerintah pusat di daerah menyampaikan pernyataan oposisi. Sungguh tidak etis,” kata Tjahjo di Jakarta, Senin (28/5/18).

Kritik terhadap Sandi juga disampaikan anggota Komisi III DPR, Akbar Faisal. Dia menyebut Sandi bukanlah orang yang kapabel untuk membuat analisis politik seperti itu. Akbar menuding, Sandi tak terlalu paham apa yang dibicarakan.

Akbar menyebut apa yang disampaikan Sandi tak sepadan dengan apa yang telah dicapai pemerintah sejak 2014. Sandi dianggap lebih tepat jika membuat analisis atau penilaian tentang perbandingan Jakarta di bawah pemerintahannya dengan Kuala Lumpur.

“Itu lebih sepadan karena kalau dibandingkan dua pemerintahan ini, apalagi Mahathir baru saja terpilih lalu berkesimpulan seperti itu terlalu cepat bahkan tidak ketemu ujungnya,” kata Akbar.

Sebelumnya, Sandiaga juga menyebutkan bahwa kondisi Malaysia sama persis dengan Indonesia yang akan menggelar pemilihan umum tahun depan.

“Yang terjadi di Malaysia itu adalah isu ekonomi terutama biaya hidup. Biaya hidup semakin tinggi, rakyat semakin terbebani, kejadiannya sama di sini,” kata Sandi pekan lalu.

Sandi juga yakin kemenangan Mahathir di Malaysia juga akan berulang di Indonesia dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dapat menjadi presiden sekaligus mengentaskan masalah yang ada di Indonesia. [ipk]

Bagikan Ini :