Foto: net

telusur.co.id – Direktur Ekesekutif Voxfol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menilai pemerintahan saat ini baper dalam menanggapai masalah yang ada.

“Ada mahasiswa menjadi korban ketika berhadapan dengan aparat keamanan. Masyarakat yang protes atas naiknya harga kebutuhan pokok, protes atas utang luar negeri, memprotes kebijakan impor dan memprotes  atas tarif listrik, lewat media sosial, malah berhadapan dengan aparat penegak hukum,” ujar Pangi kepada wartawan.

Karena itu, dia meminta pemerintahan Presiden Jokowi tidak baper dan terlalu sensitif menyikapi kelompok-kelompok masyarakat yang kerap bersuara kritis dan tajam kepada pemerintah.

BACA JUGA :  PSI Diragukan Bebas Dari Korupsi

Pangi mengingatkan, sebuah rezim yang berwatak feodalisme dan suka baper, biasanya sulit bertahan lama. “Kan jadi lucu dan aneh, jika disini rakyat sendiri dimusuhi negara, sementara asing mendapat perlakuan khusus,” ujarnya.

Pangi menyatakan kecewa dan prihatin karena adanya masyarakat masuk bui yang dijerat lewat UU Informasi dan Transaksi Elektronik(ITE) . Penggunaan UU ini kata dia menandakan kecenderungan pemerintah bertindak otoriter, pada hal kita negara menganut sistim demokrasi.

“Dalam prakteknya, tidak jelasnya membedakan mana  wilayah kritik, protes, curhat dan suara kesalnya rakyat. Makin sulit membedakannya, ujungnya jadi ujaran kebencian, akhirnya masuk bui juga,” kata Pangi yang mengaku dari awal mencurigai misi dari UU ITE ini. Sebab dibalik penerapannya kata dia, ruang kritik dibatasi, akhirnya demokrasi bisa tergerus.

BACA JUGA :  Jokowi Open House Di Istana Bogor, Warga Boleh Datang

“UU ITE ini sudah memakan korban, rakyat Indonesia sendiri yang kesal dan marah dengan pemerintah yang dianggap tidak bisa merasakan dan sensitif atas permasalahan yang dihadapi rakyat,” ujar Pangi. (ham)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini