Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti/Net

telusur.co.id – Komisioner KPAI bidang pendidikan Retno Listyarti menilai peristiwa meninggalnya dua pelajar di Blitar (EPA dan BI) akibat bunuh diri, merupakan momentum bagi pemerintah khususnya kementerian pendidikan untuk berbenah diri.

Retno menilai, kebijakan sistem zonasi dalam kematian ananda EPA, bukanlah tindakan yang bijak. Meskipun sistem zonasi yang ditetapkan pemerintah sesungguhnya memiliki tujuan yang baik, yaitu perlahan justru hendak menghapus sekolah unggul dan sekolah favorit.

“Yang perlu kita dorong kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah memenuhi 8 standar nasional pendidikan (SNP), terutama standar sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas dan merata di seluruh Indonesia dan kedua standar pendidik dan tenaga kependidikan yang berkualitas dan merata di seluruh Indonesia, sehingga seluruh sekolah berkualitas sama dan tidak perlu ada yang dilabeli  sekolah unggulan atau sekolah favorit lagi,” ungkap Retno dalam keterangan tertulisnya, Jumat (01/06/18).

Menurut Retno, andai kualitas sarana prasarana dan kualitas pendidik di kabupaten Blitar sama dengan di Kota Blitar, pastilah EPA tidak perlu takut jika tidak diterima di SMAN kota Blitar karena ada kesempatan diterima di SMAN di kabupaten Blitar yang memiliki kualitas yang sama dengan SMAN di kota Blitar.

“Ini momentum yang seharusnya menjadi dorongan bagi pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk terus berupaya  memenuhi 8 standar nasional pendidikan nasional merata di seluruh Indonesia,” tukasnya.

Seperti diketahui, telah terjadi peristiwa meninggalnya dua remaja di Blitar dalam waktu yang berdekatan  mengejutkan banyak pihak. Kasus pertama adalah meninggalnya siswi SMP yang bernama EPA (16 tahun) akibat gantung diri di kamar kosnya. Diduga EPA bunuh diri karena takut tidak bisa diterima masuk di salah satu SMA favorit di kota Blitar, karena terbentur sistem zonasi.

Dua hari setelah kematian EPA, warga Blitar dikejutkan dengan berita kematian BI yang merupakan pelajar yang baru dinyatakan lulus dari SMP di Kabupaten Blitar. Warga Kecamatan Kanigoro itu nekat mengakhiri hidup dengan gantung diri. Pelajar 15 tahun itu ditemukan tewas tergantung pada seutas tali tambang di kamarnya. Motif bunuh diri diduga karena ingin dibelikan motor. (ham)

Bagikan Ini :