Foto/Net

Oleh : Abu Hanifah – Pada sepuluh hari-hari terakhir bulan puasa Ramadhan, umat Islam yang beriman mengerjakan iktikaf. Yaitu berdiam diri di dalam mesjid. Semua itu dikerjakan dalam upaya, mencari ridha Allah. Sebenarnya iktikaf ini dapat dilakukan kapan saja, namun umat islam cenderung melakukannya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Karena diyakini pada malam 10 hari terakhir tersebut, adanya Lailatul Qadar. Yaitu setiap amal ibadah yang dilakukan di saat itu, bernilai lebih baik dari seribu bulan.

Memang, itikaf ini telah diperintahkan Allah Azza wa Jalla kepada Ibrahim Alaihi Salam dan Ismail Alaihi Salam untuk membersihkan Baitullah (Rumah-NYA Allah). Sebagai sarana untuk orang thawaf,  itikaf, ruku dan sujud. (QS. 2 : 125). Kemudian dalam upaya menyempurnakan puasa Ramadhan. Allah memerintahkan iktikaf di daalm mesjid supaya mereka bertakwa. (QS. 2 : 187).

Iktikaf yang dikerjakan daalm upaya mensucikan kembali ruh kepada fitrah iman. (QS. 7 : 172). Dan menghadapkan wajah kita kepada  Allah,  yang telah menciptakan dengan  fitrah-NYA (QS. 30 : 30). Mengarahkan diri kepada fitrah ketakwaan agar beruntung dan membunuh mati kefasikan, dan agar menjauhi kekotoran  (QS. 91 : 7-10). Serta dalam upaya diri menghindari cinta dunia (penyakit al wahn) dan takut mati. Mengusir nafsu setan dari dalam diri dengan cara mendekatkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala, melalui iktikaf.

Itu juga merupakan upaya sungguh-sungguh agar hidup di jalan Allah. Menghapus segala macam sifat yang tercela. Memutuskan mata rantai dengan cara hidup yang tidak diridhai Allah. Menjadi manusia yang tdk sombong dan selalu rendah hati. Bila malam bersujud untukTuhan. Membelanjakan harta tidak berlebihan dan juga tidak kikir. Menjauhi perbuatan zina. Segera bertobat dan mengerjakan amal saleh. (QS. 25 : 63-70).

Menjauhkan diri dari sifat takabur, pada malam hari sholat tahajud atau qiyamulail. Menjauhkan diri dari perbuatan ahli neraka. Senantiasa membaca, mentadaburi, menghayati serta mengamalkan Al Qur’an di dalam kehidupannya. Saat iktikaf memperbanyak dzikir dan istighfar sambil melakukan introspeksi, bermuhasabah diri. Sudah cukupkah bekal iman dan takwa ut nenghadap Allah. Sebaik-baiknya bekal adalah takwa. (QS 2 : 197).

 

Salam dari Bekasi.

Senin, 4 Juni 2018.

Bagikan Ini :