telusur.co.id – Juru bicara Gerakan Mahasiswa 98, Abdul Wahab Talaohu (Unija) mengatakan kejadian teror bom di Surabaya serta serangan terhadap markas aparat kemanan di sejumlah daerah memprihatinkan.

“Kasus bom bunuh diri di Surabaya menunjukkan eskalasi dari radikalisme, intoleransi dan terorisme di Indonesia. Dunia pun mencatat kejadian itu sebagai peristiwa family suicide bomber pertama, dan mengingat pelakunya berasal dari keluarga yang mapan secara ekonomi, hal itu turut membantah pendapat yang menyatakan kemiskinan merupakan faktor utama penyebab radikalisme, intoleransi dan terorisme,” ungkap Abdul Wahab Talaohu dalam keterangan tertulisnya, Minggu.

Kata dia, belasan tahun para aktifis memilih diam, dan mengamati fenomena radikalisme, intoleransi dan terorisme, dan menyerahkan penanganannya kepada pemerintahan yang ada. “Kini setelah dua puluh tahun, kami secara bersama memandang tidak boleh diam.”

Aktivis 98 yang memiliki hak sejarah atas perubahan di Indonesia harus meluruskan dan melawan radikalisme, intoleransi, dan terorisme yang terus-menerus mengikis orientasi kebangsaan rakyat Indonesia. Fenomena bomber family, ditambah sikap elit politik yang ambigu dalam merespon kejadian tersebut berpotensi menjadi ruang inkubasi dan hibernasi bagi radikalisme. “Intoleransi dan terorisme sehingga akan sangat mengancam ke-Indonesiaan kita,” katanya.

Bahaya radikalisme, intoleransi dan terorisme tersebut bukan khayalan. Hasil Survai Wahid Institut tentang radikalisme dan intoleransi terhadap 1.520 responden pada 2017, menunjukkan data yang membuat para aktivis miris. Sebanyak 11 juta orang atau 7,7 persen dari total populasi di Indonesia mau bertindak radikal. Dari Survai tersebut juga diketahui 0,4 persen penduduk Indonesia, sekitar 600 ribu orang pernah bertindak radikal.

Berdasarkan latar belakang tersebut, Aktivis 98 memutuskan untuk melakukan Rembuk Nasional di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, pada 07 Juli 2018. Keputusan tersebut diambil berdasarkan dua alasan: Alasan Ideologi, dan Situasi Nasional.

Pertama, Radikalisme, Intoleransi dan Terorisme telah berada pada tahap mengancam Pancasila dan merusak nilai-nilai kemanusiaan. Sikap ambigu sejumlah elit politik cukup menunjukkan bahwa radikalisme sudah meresap ke dalam cara pandang mereka.

“Hal ini sangat berbahaya karena menjadi ruang subur bagi radikalisme, intoleransi dan terorisme untuk berinkubasi dan berhibernasi. Sikap ambigu mereka akan membuat ujaran kebencian meluas, dan mereka yang terpapar kebencian akan dengan mudah terpapar radikalisme. Akibatnya, gampang sekali mereka menyebar fitnah, salah satunya menuduh aparat keamanan merekayasa teror, dan mengatakan pelaku teror sebagai korban.”

Kedua, Radikalisme, Intoleransi, dan Terorisme telah menyebar ke segala lapisan sosial dan aparatur pemerintahan. Mereka yang terpapar radikalisme ditandai dengan mudahnya mereka menjungkir-balikkan fakta. Cara pandang mereka yang memonopoli kebenaran, membuat mereka menjadi hakim bagi orang-orang yang berbeda dengan mereka.

Kebhinnekaan yang merupakan kekayaan dan kekuatan bangsa justru hendak diseragamkan karena mereka memandang kebhinnekaan sebagai musuh. Perilaku orang-orang yang sudah terpapar radikalisme, intoleransi dan terorisme telah mereduksi dan merusak nilai-nilai kemanusiaan, seiring hilangnya orientasi kebangsaan pada diri mereka.

Situasi ini juga melanda lingkungan pendidikan dari tingkat kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Sikap membiarkan radikalisme, intoleransi dan terorisme berhibernasi sama artinya dengan mengamini ke-Indonesiaan terkoyak-koyak. (ham)

Bagikan Ini :