Foto: telusur.co.id

telusur.co.id – Menyambut Lebaran 2018, ratusan pedagang parcel penuhi trotoar di depan stasiun Cikini, Jakarta Pusat.

Bahkan mereka mendirikan tenda di atas trotoar. Akibatnya, pejalan kaki rela jalan berhempit-hempit dipinggir tenda karena tidak ada ruang. Hal itu diperparah dengan keberadaan ojek online yang juga mangkal dipinggir jalan tersebut.

Salah satu pedagang parcel, Prayogi mengatakan, saat ini tidak ada penertiban dari satuan polisi Pamong Praja (Satpol PP) terkait jualan di trotoar. Sedangkan, di era Ahok, kata Yogi, para pedagang harus ‘kucing-kucingan’ dengan Satpol PP.

“Belum ada yang melarang jualan disini kecali dulu jaman Ahok kita harus kucing – kucingan sama petugas (Satpol PP),” ujar Yogi dilapaknya, Pengangsaan, Jakarta, Selasa (5/6/18).

Pria 29 tahun ini menyatakan, memang saat ini para pedagang sering bersitegang dengan para tegus karena menolak ditertibakan. Namun, saat para petugas tidak ada pedagang kembali membuka lapaknya.

Sedangkan, di era Ahok dulu, setiap mendekati lebaran, puluhan petugas disiagakan di kawasan tiap hari agar para pedagang parcel tidak membuka lapak. “Puasa tahun 2016, itu dalam seminggu bisa dua kali satpol PP kemari, semuanya ditertibkan. Pada tahun 2017 itu disini emang engak bisa jualan soalnya satpol PP tiap hari ada disini,” kata Yogi.

Sebelumnya, pada masa Pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tajahaja Purnama alias Ahok, keberadan para pedang parcel dadakan di trotoar ditindak tegas oleh Satpol PP. Alasannya, keberadan mereka sering membuat jalanan di sekitar satasiun Cikini bertambah Semrawut. Tak hanya itu, hak pejalan kaki pun direnggut mereka.

Sementara, di era Gubernur Anies Bawsedan saat ini, pedang parcel di kawasan Stasiun Cikini, terkesan sengaja didiamkan. Sebab, pemprov DKI belum sekalipun menertibkan mereka. [ipk]

Bagikan Ini :