telusur.co.id- Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) diminta tak gegabah menyebut beberapa kampus yang telah terpapar paham radikalisme.

Begitu disampaikan oleh Rektor Paramadina, Firmanzah dalam sebuah diskusi di Kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (79/6/18).

“(Penyebutan paham radikalisme di kampus-red) Isu yang sensitif. Apabila satu terpapar apa yang lain tidak terpapar?,” ungkapnya.

Firmanzah menjelaskan, bahwa pihaknya lebih mendukung rencana Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Mohamad Nasir yang akan mengumpulkan semua rektor perguruan tinggi negeri se-Indonesia untuk membahas masalah radikalisme di dalam kampus.

“Instansi perlu berhari hati membahas ini. Jadi, lebih baik sebelum ke publik, rektor diundang lebih dulu,” ujarnya.

Selain itu, bekas Staff Khusus presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini mengaku gamang atas istilah radikal. Sebab, pengertian radikal dengan teroris itu berbeda.

“Kami melihat terminologi radikal ini sangat ambigu. Kalau teroris kan sudah Jelas. ISIS ngebom (itu teroris). Itu bukan hanya pemerintah tapi kami juga keras,” tegasnya

Seperti diwartakan, BNPT menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi 10 Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme.[far]

Bagikan Ini :