Gambar : Net

Oleh : Abu Hanifah – Dalam pelaksanaan puasa Ramadhan, sebenarnya bukan hanya menahan diri dari rasa lapar dan rasa dahaga yg dilakukan. Tetapi seorang manusia,harus mampu juga untuk mengendalikan diri. Dalam soal berbicara, masih banyak yang belum mampu mengontrol dirinya. Kekuasaan nafsu di dalam dirinya,tidak gampang untuk ditundukan. Boleh saja dirinya adipati hulung di sebuah kerajaan antah berantah. Tetapi untuk mengontrol lidah yangg tidak bertulang bukanlah pekerjaan mudah

Pada bulan suci Ramadhan ini, mari kita belajar lebih dalam soal janji-berjanji. Jangan sampai sebuah janji dilontarkan, hanya sekedar agar orang-orang menjadi kagum. Bahwa kita masih memikirkan keadaan orang lain. Rasulullah Shallallahu Alaihi wasalam pernah di tegor Allah Subhannahu wa Ta’ala, hanya soal gara-gara sebuah janji.

Firman Allah dlm Surat Al Kahfi, ayat 23-24. Rasulullah SAW, berjanji akan mengerjakan sesuatu besok pagi, dengan tdak diikuti pernyataan “Insha Allah” Ternyata hingga beberapa hari Rasul SAW, belum mendapat petunjuk soal itu. Sehingga turunlah ayat ini, untuk memperingatkan Rasulullah SAW agar setelah ucapan janji di ikuti kata, “Insha Allah.” “Mudah-mudahan, Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini.” (QS. 18 : 24)

Begitu juga orang tua, jangan berjanji kepada anaknya akan memberi uang jajan untuk lebaran. Ternyata besok di kantongnya tidak ada uang. Akhirnya janji tidak dapat ditunaikan, anak pun kecewa.

Jangan sampai sebuah janji, menggugurkan pahala puasa kita. Dan juga menghilangkan kepercayaan orang kepada diri kita.

Salam dari Bekasi.
Minggu,  10 Juni 2018.

*”abu hanifah”*

Bagikan Ini :