Gambar : Net

Oleh : Abu Hanifah-Untuk melakukan ibadah sholat, seorang anak manusia harus membersihkan diri terlebih dahulu. Dan hal ini sudah menjadi pengetahuan umum. Bahwa syarat sahnya sholat adalah kebersihan. Bukan hanya bersih badan saja. Tetapi harus bersih semuanya. Tempat sholat, lingkungan, pakaian, air wudhunya. Dan tentu saja hatinya juga harus bersih.

Dalam upaya meningkatkan kualitas manusia muslim. Ruang lingkup kebersihan bukan hanya phisik, badan, tempat, dan pakaian. Secara phisik Islam telah mengajarkan dibersihkan dengan berwudhu. Pakaian dan tempat sholat bebas dari najis dan hadas.

Tetapi, bersih batin dan  jiwa juga harus di perhatikan. Selama bulan puasa Ramadhan kita telah menghindarkan diri penyakit kejiwaan. Beberapa di antara kotoran yang melekat dan dapat mengganggu kebersihan batin. Seperti penyakit syirik,  sombong, tamak, bohong, sifat riya, sifat dendam, iri dan dengki.

Syirik merupakan penyakit akut yang tidak mendapat pengampunan dari Allah SWT. Orang syirik, mempersekutukan Allah, adalah org yang berbuat dosa besar. (QS. 4 : 48). Penyakit sombong, menjangkit banyak orang. Sombong karena  jabatan pada hal itu amanah. Sombong karena harta kekayaan pada hal itu hanya titipan. Janganlah kamu sombong di muka bumi ini. Sekali-kali tidak akan mampu menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung. (QS. 17 : 37).

Begitu juga dengan penyakit riya, memamerkan kebaikan diri kepada orangg lain. Jangan merusak pahala sedekah dengan menyebut-nyebut dan menyakiti hati dan perasaan penerima. (QS. 2 : 264.). Karena itulah, selama satu bulan Ramadhan membersihkan segala penyakit dan kotoran batin. Sehingga ke depan seluruhnya telah terjaga kebersihan diri. Itulah sebuah  keberhasilan dalam menjalani puasa Ramadhan.

Selesai Ramadhan kita bagaikan bayi yang baru lahir tanpa dosa.

Malaikat Jibril dan berkata :

“Siapa yg mendapat bulan Ramadhan dan dia tdk mendapat ampunan. Kemudian dia masuk neraka. Maka jauhkanlah Ya Allah kami dari itu. Katakanlah Aamiin. Maka Nabi SAW, menjawab Aamiin. (Bukhari dlm Adabul Mufrod, Thabrani dlm kitab Mu’jam Kabir At Thabrani). (Red).

 

Salam dari Bekasi.

Selasa, 12 Juni 2018.

 

abu hanifah

Bagikan Ini :