Sudah 73 tahun merdeka dan klaim sebagai Negara Demokrasi; seharusnya sudah sukses usung para Tltokoh yang mumpuni untuk jadi presiden. Presiden tidak bisa di karbit. Capres harus uji nyali dan uji sahih ketokohannya.

Oleh karena nya, parpol-parpol peserta Pemilu dan Pilpres harus diberi ruang untuk calonkan kader/Ketum/tokoh berpengaruh.

Harus ada 15 Capres sesuai jumlah partai peserta pemilu. Dan ruang itu harus di buka lebar karena tuntutan alam demokrasi dan desakan publik yang semakin cerdas.

Jika itu yang terjadi, maka Ketum/kader partai atau tokoh berpengaruh akan lolos atau tidak pada uji publik. Publik akan memberi dukungan dan suara kepada tokoh-tokoh yang di jagokan oleh partai-partai itu.

Jika tokoh yang dijagokan itu sukses raih suara besar secara otomatis partai pengusungnya akan menjadi besar. Sebalik nya, jika tokoh yang digadang-gadang itu cuma ayam sayur. Ya sudah mudik maneh atau balik kandang aja.

Ketokohan dan kualitas Capresnya diuji publik, maka partai-partai peserta Pemilu harus cerdas menjaring jagonya. Jangan sampe ada Capres yang mau debat aja materi debat dan gaya nya diarahkan.

Sudah jadi presiden pun di tantang debat atas kinerja ekonomi saja ketakutan. Menteri-menterinya sama saja. Sama ketakutan seperti Presiden nya. He he he.

Makanya, dari sekarang kalau jualan tokoh itu jangan ambil dari toko yang jualan boneka. Menang dipajangan doang. Toh sudah jadi pun kerjanya mejeng sana-sini. Giliran di kritik, pengikutnya rajin buat laporan ke polisi.

Kini saatnya Pemilu Legislatif dan Pilpres di satukan. Saatnya demokrasi akal sehat dan nurani yang bicara. Jangan kemas jago yang cuma senang tebar pesona dan jualan pencitraan. Mau kejar Piala Citra kali ye..

Rakyat jangan mau dibodohi lagi oleh partai bodohi rakyat dengan menjual tokoh boneka.

Saatnya kecerdasan yang bicara. Jangan jadi bangsa dungu karena membiarkan kedunguan yang anti kecerdasan yang tetap berkuasa.

#JanganPilihPemimpin Dungu

Kalau parpol-parpol peserta pemilu 2019 mau besar dan menang. Dan jangan menyerah pada keadaan yang ada dengan menerima patokan Presidential Threshold (PT) 20 %.

Ini catatan dipenghujung ramadhan atas kegelisahan kepemimpinan negeri ini. Semoga 2019 Indonesia punya presiden baru. Aamin Ya Rabbuna.

Oleh: Muslim Arbi

Bagikan Ini :