Ahmadinejad/Net

Oleh : Haz Pohan

INI peristiwa sebelas tahun lalu di New York, pada tahun 2007, ketika Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad —dalam agenda menghadiri sidang umum PBB di New York—diundang rektor Columbia University untuk berpidato dan berdebat di kampusnya.

Semua orang tahu, ketika Ahmedinejad menjadi Presiden Iran (2005-2013) hubungan Iran dan Amerika sering memanas.  Komen-komennya tentang Israel sangat mengganggu Amerika.  Misalnya dia mempertanyakan apakah Holocaust itu benar-benar terjadi, dan Israel harus dimusnahkan dari muka bumi.

Jangan lupa, di balik kontroversi ini negosiasi Iran dengan PBB, Amerika, Uni Eropa dan Rusia berkaitan dengan program nuklir Iran, Israel –dan beberapa negara di Timur Tengah—pun khawatir jika pada akhirnya Iran memiliki senjata nuklir. Tidak ada yang meragukan bahwa Iran memiliki resources yang cukup untuk itu.  Ilmuwan Iran juga berkelas dunia.

Mahmoud Ahmedinejad adalah seorang politisi Iran yang menjadi Presiden ke-6 Iran (2005-2013).  Dia seorang insinyur dan guru, pernah menjadi Gubernur dan Walikota Teheran menjadi Presiden di tahun 2005 dengan dukungan 62 persen suara.

Selama masa kepresidenannya, Ahmadinejad dipandang sebagai tokoh kontroversial di Iran, juga internasional. Dia telah dikritik di dalam negeri karena kebijakan ekonominya.  Di dunia internasional, dia dikritik karena permusuhannya terhadap beberapa negara, terutama Arab Saudi, Israel, Inggris, dan Amerika Serikat dan negara-negara Barat dan Arab lainnya.

Selama masa jabatan keduanya, Ahmadinejad diserang tidak hanya dari para pembaharu tetapi juga tradisionalis di parlemen dan Garda Revolusi.  Maka, pada tahun 2013, Hassan Rouhani terpilih sebagai pemenang pemilu menggantikan Ahmadinejad di tahun 2013.

Di puncak karirnya,  dia menerima undangan Columbia University untuk perdebatan.  Ini pasti menarik diamati, fikirku.

Semua orang tahu, Ahmedinejad seorang negarawan dan politisi yang cerdas.  Kemampuan retorika dan debatnya benar-benar kelas atas.  Maka, pantang baginya untuk menolak tantangan debat.  Dia sadar, perdebatan di Columbia University ini ‘berkelas tinggi’, bukan pula enteng.  Tetapi, Ahmedinejad bukan politisi kelas bulu.  Dia heavyweight.

Bertepatan pula pada tahun 2007, Ground Zero —monumen memperingati korban serangan teroris di Twin Tower dalam peristiwa 9/11— baru saja diresmikan. Presiden Iran itu juga ingin meletakkan karangan bunga di sana.  Rencana  Ahmedinejad tidak memperoleh izin.  Rakyat Amerika senang.

“Saya ingin  untuk memberikan penghormatan kepada mereka yang tewas dalam serangan terhadap menara kembar di World Trade Center,” kata Ahmadinejad bernada kecewa.  Dia heran kenapa reaksi warga Amerika negatif.

“Saya berpikir bahwa ketika saya melakukan itu, saya akan melakukan apa yang telah saya katakan sebelumnya, untuk menyampaikan penghormatan saya kepada negara Amerika.”

Batal acara di Ground Zero, aksi protes terhadap rencana berdebat di Columbia University itu tidak kurang memanas.  Kontroversi pun marak, aksi protes menjalar bahkan di kampus. Protes malah lebih keras.

Memang, tampilnya tokoh kontroversial memiliki daya-tarik tersendiri. Kehadiran Ahmedinejad di forum menjadi jaminan auditorium penuh sesak.  Tetapi tak bisa dicegah, teriakan pemrotes dan pembenci membahana.  Riuh rendah. Hanya segelintir dosen yang memandang ada poinnya kehadiran Presiden Iran itu di Columbia.

Amerika, meskipun mengklaim sebagai ‘free country’ yang menjunjung kebebasan mimbar, adakalanya bias. Tak tertolong.

Beberapa jam sebelum perdebatan, pengunjuk rasa menolak universitas Ivy League menjadi tuan rumah bagi tokoh lalim berbahaya yang diduga mempersenjatai gerilyawan di Irak, dan secara diam-diam membangun senjata nuklir.

Bahkan, Dov Hikind, anggota dewan negara bagian New York yang mewakili bagian-bagian Brooklyn, menyamakan presiden Iran dengan Hitler!

“Universitas ini membuat olok-olok wacana beradab dengan membiarkan orang gila ini untuk berpartisipasi,” kata anggota dewan kota New York, James Gennaro.

Di tengah aksi protes, acara tetap berlangsung. Rektor Lee Bollinger sendiri terprovokasi, berupaya tampil garang.

“Anda memiliki tanda-tanda seorang diktator yang licik dan kejam,” kata Rektor memulai acara debat.   Tentu saja tembakan salvo ini disambut meriah oleh para pemrotes, para mahasiswa dan dosen.  Auditorium hingar-bingar.

Sebagai penyuka kata-kata dan debat sehat, aku memang mengagumi Ahmedinejad.  Menjadi kenikmatan bagiku mendengarkan pidatonya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris.  Padat, berisi dan penuh dengan kata-kata yang hanya muncul dari seseorang yang memiliki pengetahuan dan wisdom yang sangat tinggi.

Ahmedinejad memang lebih mirip seorang filosof, melebihi seorang negarawan. Pidatonya senantiasa memukau, menunjukkan dia manusia ini luar biasa.  Pendebat kelas ‘buzzers’ bahkan profesor sinis pun harap minggir!  Ahmedinejad bukan kelas Anda!

Apa yang dilakukan oleh Ahmedinejad di Columbia sangat mengesankan saya.  Dia hanya tersenyum, memandang audiens dengan aksi protes dan dengan teriakan di sana-sini.  Tujuan mereka tentu mengintimidasi bahkan menggagalkan speech Ahmedinejad.    Ahmedinejad kalem.  Dia sadar, debat di Columbia itu bukanlah event ‘ecek-ecek’ kelas kambing.  Dia harus tampil prima.

Rektor melanjutkan salvo-nya.”Mr. Presiden, Anda benar-benar provokatif atau sangat tidak berpendidikan.” Presiden Iran, yang duduk 10 kaki dari dia di atas panggung, tersenyum datar. Hadirin bersorak, dan panggung berguncang.

Bollinger melanjutkan serangannya. Dia mengatakan jelas bahwa Iran adalah sponsor terorisme negara, menuduh Iran melawan perang proxy melawan Amerika Serikat di Irak dan mempertanyakan mengapa Iran telah menolak untuk “mematuhi standar internasional” dalam transparansi program nuklirnya.

“Saya ragu,” Mr. Bollinger menyimpulkan, “bahwa Anda akan memiliki keberanian intelektual untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini,” kata Rektor seraya mempersilahkan Ahmedinejad memulai, di tengah teriakan-teriakan kasar dan sangar.

Ahmadinejad adalah tokoh berkelas dunia yang matang.  Tidak gampang dia terintimidasi, apalagi dengan statement klise yang diulang-ulang bak kaset rusak.  Presiden Iran yang senantiasa tampil sederhana itu tidak langsung menjawab serangan Rektor Bolinger.  Audiens semakin histeris.

Namun dengan statement pendek, dia berhasil tiba-tiba membuat audiens terdiam.

“Di Iran, tradisi kami mengharuskan bahwa ketika Anda mengundang seseorang datang ke tempat Anda, maka adalah kewajiban Anda untuk memberikan penghormatan sebaik mungkin.”

Statement singkat ini efektif dalam membungkam teriakan protes di sana-sana, termasuk bagi Rektor.  Dengan kalimat pendek ini, tiba-tiba audiens terdiam senyap.  Mereka merasa malu telah diajarkan oleh Ahmedinejad bagaimana bersikap seharusnya menjadi bangsa yang beradab.

Jelas, Ahmedinejad bukan hanya berbicara tentang Iran, pewaris kerajaan Persia pembawa peradaban itu.  Presiden Iran itu tampak memegang teguh peradaban Islam, dan menekankan bahwa “memuliakan tamu” adalah suatu kewajiban.  Perilaku menyimpang menjadi kehinaan.  Itulah pesan dari dunia Islam.

Ahmedinejad berhasil mengubah situasi riuh-rendah penuh teriakan protes itu menjadi hening seketika. Dengan pesan yang sarat, dia membuat event itu memalukan. Tidak saja kepada Columbia Unversity, tetapi kepada bangsa Amerika.  Dia telah mengajarkan apa itu standar peradaban.

Ahmedinejad tidak menuntut kehormatan.  Dia hanya mengajarkan wisdom di luar dunia Barat, bahwa nilai-nilai ketimuran yang dipraktikkan oleh Iran dan dunia Islam tidak terbantah jauh lebih mulia.

Setelah publik tenang dan hikmat mendengarkan, Ahmedinejad menilai diskusi publik bisa dilanjutkan.  Diapun memulai serangan-serangan baliknya dengan argumentasi rasional yang sukar dibantah.

Jalannya perdebatan substantif yang cukup menarik patut ditulis tersendiri.  Seni berdebat, ketajaman intuisi dan pengemasan terhadap kata-kata hanya dimiliki oleh orang-orang berbudaya tinggi.  Aku suka itu.

Debat tidak boleh ecek-ecek, menang-menangan. Lisan kasar itu milik peradaban barbar.  Menjadi manusia yang beradab memang bukan urusan mudah.

Ahmedinejad memenangkan pertarungan kelas berat itu (Red/Ist).

Jakarta, 20 Juni 2018

Haz Pohan adalah Mantan Wartawan dan Mantan Dubes RI untuk Polandia

Bagikan Ini :