Beduk Lebaran/Net

Oleh : Abu Hanifah -Hampir satu minggu kita melepaskan bulan puasa Ramadhan. Dan selama ini, sebuah kebiasaan atau tradisi di dalam masyarakat Indonesia pada Hari Raya Idul Fitri, adalah menyambung silaturahmi. Baik itu dengan  sanak famili dekat maupun kerabat jauh. Mengunjungi tetangga sebelah rumah, juga tetangga jauh. Membawa bingkisan lemang tapai, lontong sayur, mau pun kue lapis legit yang dibuat di dapur mak.

Setelah lewat dari itu, baik yang masih tetap tinggal di rumah. Mau pun yang sempat mudik ria ke kampung halaman. Hendaknya memulai melakukan puasa syawal yang hukumnya adalah sunat selama enam hari. Kenapa ini di upayakan tidak dilakukan dari awal bulan Syawal. Adalah untuk menghormati bila kita menyambung silaturahmi ke tempat saudara dekat mau pun saudara jauh di kampung sebelah. Apabila tuan rumah menyuguhkan lontong sayur. Tidak elok menolaknya dengan alasan sudah mulai puasa syawal pada hari kedua.

Puasa syawal ini, berdasarkan hadits Abu Ayyub Al-Anshari ra, ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian di iringi dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa sepanjang masa.” (HR. Shahih Muslim. No. 1164).

Begitulah kita umat Islam hendaknya terus berbuat kebaikan. Kapan saja dan dimana saja. Jangan pernah merasa lelah untuk  berbuat kebaikan. Salah satu dari pintu-pintu kebaikan adalah melaksanakan puasa. Rasulullah SAW, bersabda : “Maukah aku tunjukan padamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah prisai, .. (HR. Tirmidzi). Selain itu dengan kita melakukan puasa tersebut, berarti kita setiap waktu mengingat dan menyembah Allah Azza wa Jalla, tanpa mengenal lelah. Karena Allah setiap waktu terus menerus selalu mengurus makhluk-NYA, hamba-hamba-NYA. Tidak mengantuk dan tidak tidur. (QS. 2 : 255).

Puasa enam hari Syawal, tidak harus di lakukan berurutan harinya. Selama masih bulan Syawal hal ini dapat kita lakukan, dengan hari yang terpisah-pisah. Memang paling afdal dikerjakan enam hari terus menerus, tanpa jeda. Tetapi keperluan orang berbeda-beda. Mungkin dia sedangg melakukan safar atau perjalanan j\yang cukup jauh. Kemudian puasa syawal tidak bisa dijadikan satu dengan mengqada puasa Ramadhan. Karena qadha membayar puasa wajib, yang ditinggalkan. (QS. 2 : 185).  Sedangkan puasa enam Syawal hukumnya sunat.(Red/Ist).

Bagikan Ini :