Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Herman Hery/Net

telusur.co.id – Aparat Kepolisian diminta tidak pandang bulu dalam menangani suatu perkara, termasuk yang melibatkan pejabat negara.

Demikian disampaikan Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S Pane, kepada telusur.co.id, Selasa (19/6/18), menanggapi adanya laporan dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Herman Hery.

Penganiayaan, kata Neta, adalah tindak pidana dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara. Sebab itu, lanjutnya, jika dalam pemeriksaan polisi ditemukan bukti-bukti bahwa anggota DPR Herman Hery terlibat penganiayaan, Polres Jakarta Selatan, selaku pihak yang menangani kasus tersebut, harus segera menahan Herman, sampai kasusnya dilimpahkan ke Kejaksaan.

“Tak sulit bagi Polres Jaksel untuk mengusut kasus ini. Karena di TKP cukup banyak saksi, termasuk anggota Polantas yang menilang korban,” kata dia.

IPW, lanjut Neta, mendesak Polres Jaksel untuk menuntaskan kasus ini, dan segera menahan Herman Hery jika diketahui melakukan penganiayaan.

“Begitu juga kedua pengawalnya jika terbukti terlibat, tidak ada alasan bagi Polres Jaksel untuk tidak menahannya. Polres Jaksel jangan bersikap diskriminatif dan jangan takut dengan Herman Hery, meskipun dia anggota DPR,” kata Neta.

Justru, sebagai anggota DPR, Herman harus bisa memberi contoh kepada masyarakat. Sikapnya yang menerobos jalur busway dan dugaan melakukan penganiayaan adalah sikap arogan yang tidak pantas dipertontonkan oleh seorang wakil rakyat.

“Sayangnya polisi tidak bertindak adil dan takut pada Herman Hery. Terbukti korban ditilang karena menerobos jalur busway, sebaliknya Herman Hery dibiarkan pergi. Sebab itu IPW mendesak polres Jaksel segera mengusut kasus ini dan jangan takut pada Herman Hery,” kata dia.

Dirinya mengatakan, jika Polisi takut dengan Herman Hery, maka sebaiknya berhenti saja menjadi Polisi, karena bersikap diskriminatif dan tidak mampu melakukan penegakan hukum.

“PDIP dan Komisi III DPR juga harus mendorong Polres Jaksel menuntaskan kasus ini,” kata dia.

Sebelumnya, seorang warga bernama Ronny Kosasih Yuliarto melaporkan Herman Hery ke Polisi atas dugaan pengeroyokan dan penganiayaan.

Kabar adanya pelaporan tersebut disampaikan pengacara korban, Febby Sagita, saat dikonfirmasi redaksi telusur.co.id, Kamis (21/6/18).

(Baca: Anggota DPR Fraksi PDIP, Herman Hery Dilaporkan Ke Polisi Atas Dugaan Pemukulan)

Korban pun langsung melakukan visum di RSPP dan melaporkan kejadian tersebut ke kantor polisi, dalam hal ini Mapolres Jakarta Selatan.

“Tapi karena sudah mendekati Idul Fitri, pihak kepolisian mengatakan akan menindaklanjuti perkara ini setelah libur lebaran, (Kamis, 21 Juni 2018),” kata Febby.

(Baca: Polisi Tindak Lanjuti Laporan Dugaan Penganiayaan Oleh Politikus PDIP)

Repro

Laporan itu tercatat pada tanda bukti lapor nomor: LP/1076/VI/2018/RJS tanggal 11 Juni 2018. Ronny yang menjadi korban melaporkan tindak pidana pengeroyokan dengan dugaan pelanggaran pasal 170 KUHP.

Herman sendiri belum bisa dikonfirmasi terkait adanya dugaan penganiayaan yang dilakukannya. Keterangan dari Herman Hery akan dimuat dalam berita selanjutnya. [ipk]

Bagikan Ini :