Foto: Facebook Rismon Raja Mangatur Sirait

telusur.co.id – Insiden tenggelamnya Kapal Motor Sinar Bangun pada 18 Juni 2018 di Danau Toba, Sumatra Utara, membuat masyarakat Indonesia terhenyak.

Dalam peristiwa itu, sebanyak 184 penumpang kapal motor belum ditemukan, 22 orang diketemukan, 19 dinyatakan selamat, dan tiga orang dinyatakan meninggal.

Namun, ada cerita lain dibalik penyebab tenggelamnya kapal tersebut.

Adalah Budayawan muda Batak, Rismon Raja Mangatur Sirait yang mengunkapkan sisi lain dari peristiwa nahas tersebut.

Malalui akun facebook miliknya, pria yang mengaku guru spiritual dari tanah Batak itu menyebut, tenggelamnya KM Sinar Bangun merupakan akibat dari penduduk yang tidak menghiraukan imbauan orang tua dahulu, yang melarang menangkap ikan mas secara berlebihan di danau yang penuh legenda itu.

Berikut cerita Rismon di akun Facebook miliknya, yang telah dikonfirmasi redaksi telusur.co.id, Kamis (21/6/18);

Tanggal 17 Juni 2018 pukul 16:30 Ikan mas seberat 14 Kg didapat pemancing di Desa Paropo Tao Silalahi. Ikan Mas paling besar dan saya juga yakin ini paling besar didapat di Danau Toba dalam kurun waktu 20 Tahun terakhir.

Bicara hal mistis percaya atau tidak percaya semua kembali ke pribadi masing-masing.

Menurut cerita disana para pemancing tidak mengindahkan larangan dan saran orang tua agar Ikan Mas ini dilepas kembali ke Danau Toba.

Dengan bangganya para pemancing tidak mengindahkan saran orang tua disana langsung membawa Ikan Mas ini kerumahnya untuk di masak dan dimakan.

Tanggal 18 Juni pukul 16:30 WIB angin puting beliung di atas Danau Toba tepat di Tao Silalahi Paropo, hingga membuat ombak besar yang nota bene banyak mengakui yang sudah lama tinggal dipinggiran Danau Toba belum pernah melihat ombak setinggi 3-4 m dan ketebalan ombak 2 m.

Tanggal 18 Juni 2018 pukul 16:35 seluruh kawasan Danau Toba di terpa angin kencang hingga ke darat. Angin kencang dan ombak besar dari Tao Silalahi Paropo ke jalur penyeberangan Simanindo ke Tigaras berjarak kurang lebih 15 km.

Cerita dari orang yang pernah lewat naik kapal di kawasan luas Danau Toba Tao Silalahi makanya di katakan Silalahi Nabolak(seekor elang saja tak sanggup melewatinya) ,agak jarang dilintasi karena bisa tiba -tiba ada ombak besar dan angin kencang. Perlu semua kita ketahui bahwa tingkat besar ombak di seluruh Danau Toba tidak sama karena pengaruh luas dan zona.Zona lintasan kapal KM Sinar Bangun yang kecelakaan di Danau Toba 18 Juni 2018 tepatnya ditengah Danau lintasan Simanindo ke Tigaras adalah zona berbahaya dilintasi bila besar ombak tidak seperti lazimnya.

Ini hanya resensi saja mauliate
Salam peduli kebersihan Danau Toba
Salam menjaga kearifan lokal di Danau Toba

Horas
Salam Namo Budaya
Rahayu
Walujati
Namaste.

Kepada telusur.co.id, Rismon menceritakan bukan hanya jenis ikan mas yang dikramatkan oleh penduduk di daerah itu. Ikan Batak juga dikramatkan oleh orang-orang tua di daerah Batak.

Menurut Rismon adanya larangan itu, bukan berarti dua ikan keramat itu tidak boleh diambil, tapi hanya secukupnya saja tidak boleh berlebih kalau tidak akan menimbulkan bencana.

“Nah itu, diambilnya ikan mas yang besar itu padahal mereka sudah dapat ikan yang cukup mengartikan bahwa hati manusia itu rakus,” kata Rismon.

Sebagai pemulihan peristiwa ia juga menyatakan telah mengadakan ritual Napuran Pitu Atup, ritual pemulihan atau meminta maaf kepada leluhur adat batak dengan menggunakan daun sirih tujuh lapis dengan telor ayam kampung betina tiga buah dan dibarengi dengan pembakaran dupa atau kemenyan di lokasi kejadian.

“ya kita minta maaf kepada leluhur dan meminta agar jiwa-jiwa korban dari kapal itu dibebaskan,” kata dia. [ipk]

Bagikan Ini :