Ilustrasi/Net

telusur.co.id – Anak dari orang tua perokok memiliki kemungkinan mengalami kerdil 5,5 persen lebih tinggi dibandingkan dengan anak dari orang tua yang bukan perokok.

Demikian hasil penelitian yang dilakukan Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia, sebagaimana disampaikan Kepala Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, UI, Teguh Dartanto dalam peluncuran “Perilaku Merokok Orang Tua dan Dampaknya Terhadap Stunting dan Jebakan Kemiskinan”, di Jakarta, Senin (26/6/18).

“Hasil itu sudah dikontrol dengan variabel genetik dan faktor lingkungan yang juga merupakan faktor-faktor risiko stunting,” kata Teguh.

Teguh mengatakan, penelitian tersebut menemukan keterkaitan antara perilaku merokok orang tua dengan kondisi stunting anak, baik laki-laki maupun perempuan. Ada kecenderungan orang tua yang selalu merokok memiliki anak yang cenderung selalu kerdil.

Rata-rata anak dari orang tua perokok kronis memiliki pertumbuhan berat badan 1,5 kilogram lebih rendah dan pertumbuhan tinggi badan 0,34 centimeter lebih rendah dibandingkan anak dari orang tua yang tidak merokok.

“Bila anak stunting, maka kecerdasannya juga akan berkurang. Rokok memiliki sifat adiktif, memiliki dampak negatif bagi generasi mendatang.”

Menurut Teguh, secara statistik, anak stunting memiliki kecerdasan logika dan matematika yang lebih rendah daripada yang tidak. Penelitian tersebut menemukan fakta bahwa anak dari keluarga perokok memiliki kecerdasan yang lebih rendah.

Penelitian tersebut menggunakan data panel Survei Kehidupan Keluarga Indonesia 2007 dan 2014 serta metode ekonometrika order logit regression untuk memastikan apakah perilaku merokok berkaitan dengan perkembangan kondisi stunting pada anak. [ipk]

Bagikan Ini :