Net

telusur.co.id – Jawa Timur, nampaknya kurang ramah bagi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Partai berlambang Banteng moncong putih itu, tercatat Hattrick menelan kekalahan dalam kontestasi Pilgub, di ujung Pulau Jawa itu.

Terbaru, paslon yang mereka jagokan, Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno dibuat bertekuk lutut oleh pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak, sebagaimana hasil quick count lembaga survei.

Pada tahun 2008, jagoan PDIP Sutjipto–Ridwan Hisjam menelan pil pahit lantaran kandas di pertarungan Pilgub Jatim. Dimana Pilgub Jatim pada tahun itu dimenangkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf.

Untuk kedua kalinya, PDIP kembali keok pada Pilgub Jatim 2013. Dimana saat itu, PDIP mengusung Bambang DH–Said Abdullah, yang kembali dikalahkan petahana Soekarwo-Saifullah Yusuf.

Bukan hanya Jawa Timur, di tanah bagian barat Pulau Jawa (Jawa Barat), PDIP juga nampaknya kurang bersahabat.

Sebab, di Tanah Sunda, PDIP turut serta mengalami Hattrick kekalahan di kompetisi Pilgub. Dimana pada tahun 2008 PDIP mengusung Agum Gumelar dan Nu’man Abdul Hakim pasangan itu dikalahkan oleh Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf.

Lima tahun kemudian, atau tepatnya pada tahun 2013, PDIP kalah lagi. Mereka mengusung Rieke Diah Pitaloka dengan Teten Masduki. Pasangan itu pun ditumbangkan oleh Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar.

Melengkapi tiga kekalahan PDIP, adalah pasangan Tubagus Hasanuddin-Anton Charliyan yang menempati posisi paling buncit. Dimana berdasarkan hasil hitung cepat berbagai lembaga survei, Pilgub Jabar dimenangkan pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum.

Keluar dari pulau Jawa, Hattrick kekalahan PDIP juga terjadi di Sumatera Utara.

Dimana pada tahun 2008, PDIP adalah partai satu-satunya yang mengusung pasangan Tritamtomo-Benny Pasaribu. Jagoannya itu, kalah dari pasangan Syamsul Arifin-Gatot Pujo Nugroho.

Kemudian pada tahun 2013, PDIP mengusung pasangan Effendi Simbolon-Djumiran Abdi. Mereka kalah dari pasangan Gatot Pujo Nugroho-T Erry Nuradi.

Terbaru, sebagaimana diketahui semua masyarakat, PDIP kembali kalah di Pilgub Sumut 2018, dimana mereka mengusung pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus.

Pasangan dari PDIP itu, tumbang dari Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah.

Menanggapi hattrick kekalahan PDIP di tiga provinsi itu, Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto menanggapi santai, dan mengaku tidak kecewa. Sebab, PDIP menjadi partai pemenang Pemilu 2014 lalu.

“Kalah menang kan biasa. Buktinya, kita menang di Pemilu legislatif (2014),” kata Hasto, di DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (28/6/18).

Dirinya mengatakan jika Pilkada 2018 berpengaruh sebagai batu loncatan di Pemilu dan Pilpres 2019. Maka dari itu, pihaknya melakukan evaluasi dan menguatkan konsolidasi di 151 kota dan kabupaten, yang mana PDIP memenangkan 91 kepala daerah wali kota dan bupati.

“Kami percaya Pilkada serentak akan linier dengan Pileg dan Pilpres apabila yang dimenangkan adalah kader partai,” kata Hasto.

“Kami catat dari Pilkada ini, daerah-daerah yang semula terlepas dari PDIP itu kembali (ke) pangkuan PDIP dan dipimpin oleh kader-kader PDI Perjuangan,” kata Hasto.

Seperti Bali yang sebelumnya diisi Gubernur asal partai Demokrat, I Made Mangku Prastika, sekarang dimenangkan Wayan Koster sebagaimana hasil hitung cepat. [ipk]

Bagikan Ini :