Salamuddin Daeng

Oleh: Salamuddin Daeng

Apa dan bagaimana neraca eksternal Indonesia selama pemerintahan Joko Widodo.

1 USD sama dengan Rp 14,241.42

Pertama:
Faktor politik Pilkada. Adanya kekhawatiran para spekulan terkait perkembangan politik sepanjang 2018-2019 atau tahun politik. Kekuasaan dan kebijakan pemerintah tidak akan berjalan secara efektif. Kebijakan pemerintah pusat akan sulit dijalankan.

Fragmentasi kekuasaan pemerintah daerah tersebar secara acak. Elite politik sepanjang 2018 akan lebih sibuk mencari dana untuk bisa berkuasa lagi di tahun 2019 mendatang. Sehingga dipastikan fundamental ekonomi yang buruk tidak akan terurus. Investor, anggaran negara, berpeluang besar akan menjadi bancakan elite politik.

Kedua:
Masalah fundamental ekonomi yang buruk yang tercermin dari neraca eksternal indonesia.

Berikut ulasannya :

Cerminan ekonomi suatu negara terhadap negara lain dan internasional dapat dinilai dari neraca eksternal negara tersebut. Jika komponen defisitnya banyak dan besar maka keadaan ekonomi negara tersebut relatif kurang baik.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), sejak tahun 2015 sampai dengam akhir tahun 2017 keadaan neraca eksternal Indonesia (dihitung berdasarkan kurs Rp 14.000 /USD sebagai berikut :

1. Terjadi defisit neraca transkasi berjalan secara akumulatif senilai Rp 727,9 triliun. Rp 727,9 triliun. Jika ditambah defisit Q1 2018 maka defisitmya mencapai Rp 805,5 triliun.

2. Terjadi defisit perdagangan migas secara akumulatif mencapai Rp 249,5 triliun. Jika ditambah defisit Q1 2018 maka nilai defisit mencapai Rp 282,6 triliun.

3. Terjadi defisit dalam transkasi jasa jasa secara akumulatif mencapai Rp 330,5 triliun. Jika ditambah defisit Q1 2018 maka nilai defisit mencapai Rp 350,5 triliun.

4. Terjadi defisit pendapatan primer secara akumulatif mencapai Rp 1.274,1 triliun. Jika ditambah defisit pada Q1 2018 maka nilai defisit mencapai Rp 1.384,5 triliun.

Uang di atas adalah nilai yang kita kirimkan sebagai setoran kepada asing atas imbalan pembelian barang impor, pembelian jasa jasa impor, cicilan utang, bunga utang dan juga transfer keuntungan investasi asing.

Bayangkan jika uang sebesar itu digunakan di alokasikan bagi ekonomi dalam negeri..? Betapa banyaknya kekayaan ekonomi yang terdistribusi ke bangsa sendiri.

Aliran uang dalam jumlah sangat besar inilah yang mengakibatkan mata uang rupiah sangat rentan terhadap faktor ekternal. Aliran uang yang terus menerus ke luar negeri dan terus berlangsung sampai saat ini, itulah yang akan menyebakan rupiah akan terus terperosok seiring perjalanan waktu.

Bisa dibayangkan dalam sistem perdangan bebas sekarang uang rupiah yang dipegang oleh masyarakat Indonesia yakni yang ditabung, yang didepositokan, telah tergerus nilainya hampir separuh hanya dalam tempo kurang dari lima tahun.

Jadi sungguh bahaya nasib bangsa dalam kondisi ekonomi semacam itu, bangsa indonesia bekerja keras hanya untuk disetorkan bagi keuntungan modal asing.

Semoga Presiden Jokowi bisa bangkit dalam sisa waktu satu setengah tahun pemerintahannya untuk mengatasi kerusakan neraca eksternal Indonesia. [***]

*Penulis adalah Ekonom sekaligus aktivis dan peneliti tambang

Bagikan Ini :