Gus Ipul/Net

telusur.co.id – Kekalahan pasangan calon Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno (Gus Ipul-Puti) lantaran partai pendukung, tim sukses, dan relawan lemah dalam membranding pasangan tersebut.

Demikian pendapat pengamat politik yang juga Direktur Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo kepada telusur.co.id, Jumat (29/6/18).

“Kelemahannya adalah di persoalan cara membranding dan cara ‘menjual’,” kata Karyono.

Dirinya mengaku tidak sependapat jika kekalahan pasangan Gus Ipul-Puti di Pilkada Jatim disebabkan oleh Puti. Sebab, sosok Puti sebagai cucu Soearno sejatinya justru menjadi kekuatan. Karena sosok Puti dan Soekarno masih memiliki magnet politik.

“Terlalu gegabah jika ada pihak yang menyebut Puti sebagai cucu Sukarno tidak memberikan kontribusi suara. Lebih konyol lagi, jika ada yang mengatakan Puti sebagai penyebab kekalahan,” kata Karyono.

Sebagaimana dalam ilmu marketing, sebelum melempar produk di pasaran diperlukan suvei pasar (marketing riset) untuk menentukan posisioning produk diantaranya adalah soal branding agar konsumen memahami dan tertarik.

Salah satu kelemahan yang ada di Tim Puti masih terjebak pada romantisme simbol Soekarno dan tokoh-tokoh NU, kemasannya masih konvensional.

Mestinya, lanjut dia, selain menyajikan kemasan klasik, tradisuonal, sangat duperlukan kemasan baru yang lebih disukai kalangan pemilih milenial.

“Tantangannya adalah bagaimana mengemas Gus Ipul dan Puti disukai kalangan pemilih milenial. Lalu penting juga membuat kemasan sosok dan pemikiran Soekarno dan tokoh NU agar nyambung dan diterima kalangan pemilih yang lebih luas.”

Selain itu, masih ada faktor lain yang menjadi penyebab kekalahan pasangan tersebut. Tetapi, di antara sejumlah faktor yang menyebabkan kekalahan adalah karena kegagalan dalam membranding kandidat. Selain itu, dari segi pengaruh figur cagub, di kalangan NU nampaknya Khofifah lebih kuat dari Gus Ipul.

“Khofifah memang pernah kalah dua kali di pilkada Jatim melawan Gus Ipul tetapi sejatinya kekuatan terbesar mengalahkan Khofifah ada di figur Soekarwo. Khafifah hanya bisa “ditaklukkan” dua energi politik yakni kekuatan pendukung Soekarwo dan Gus Ipul bersatu,” kata dia.

Sementara dalam pilkada 2018 partai Demokrat, partainya Pakde Karwo sapaan akrab Gubernur Jatim dua periode itu, berada di posisi diametral dan berseberangan dengan Gus Ipul.

Tentu saja, kata dia, hal ini membuat kekuatan Gus Ipul melemah, kalaupun misalnya Pakde Karwo mengambil sikap netral. Dalam situasi seperti ini tentu menguatkan posisi Khofifah.

“Selain itu, ada banyak faktor lain yang membuat Gus Ipul-Puti kalah, misalnya massifnya Program Keluarga Harapan (PKH) yang digelontorkan di saat Khofifah menjabat Menteri Sosial tentu itu menambah modal sosial Khofifah di masyarakat. Dan masih ada lagi faktor’faktor lain,” kata dia. [ipk]

Bagikan Ini :