Net

telusur.co.id – Peristiwa menangnya kota kosong di Pemilihan Wali Kota Makassar (Piwako Makassar) 2018, sebagai bentuk perlawanan masyarakat kepada penguasa saat ini.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Ferry Juliantono dalam acara diskusi di bilangan Cikini, Jakarta, Sabtu (30/6/18) kemarin.

Menurut Ferry, masyarakat tak menginginkan kerabat Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), Munafri Arifuddin, yang berpasangan dengan Andi Rahmatika Dewi itu menjadi wali kota.

Munafri Arifuddin merupakan menantu Wakil Ketua MPR RI 2004-2009, Aksa Mahmud. Aksa adalah ipar dari JK.

(Baca: Pilwalkot Makassar, Keluarga Wapres JK Lawan Kotak Kosong?)

Pemilihan Wali Kota Makassar awalnya diikuti dua pasangan calon, yakni, Mohammad Ramdhan Pomanto atau Danny Pomanto-Indira Mulyasari dan Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika. Kemudian KPU Makassar mencoret Danny Pomanto dan pasangannya lantaran tersandung kasus hukum.

Sebelum dicoret, pasangan Danny-Indira akan maju dari jalur independen. Sementara pasangan Munafri-Andi diusung koalisi gemuk 10 partai politik NasDem, Golkar, PAN, Hanura, PPP, PDI-P, Gerindra, PKS, PKPI, dan PBB.

Dalam perolehan suara, sejumlah quick count lembaga survei menempatkan suara kolom kosong unggul dengan perolehan 53 persen di Pilwakot Makassar.

Menurut Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman, tidak ada yang aneh dengan fenomena menangnya kotak kosong. “Semua ini kan bisa terjadi karena MK membuka peluang jika Pemilu bisa dilakukan walaupun hanya ada calon tunggal,” kata Arief Budiman kemarin.

Komisioner KPU RI, Viryan Azis mengatakan, dalam kasus ini daerah tersebut akan dipimpin oleh pelaksana tugas (Plt) sampai pelaksanaan pilkada serentak selanjutnya.

“Plt tersebut akan bertugas sampai Pilkada serentak berikutnya, yaitu pada tahun 2020,” kata Viryan.

Aturan tersebut tercantum dalam UU Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada dan PKPU Nomor 13 Tahun 2018 tentang Pilkada dengan calon tunggal.

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla menanggapi fenomena Pilkada di kampung halamannya, Makassar, yang dimenangkan kotak kosong. Walaupun tidak ikut memilih, dia menunggu rekapitulasi penghitungan suara resmi dari KPU.

“Makassar kampung saya. Kita tunggu keputusan KPU. Quick count indikator, tidak menentukan hasil akhirnya KPU,” kata JK di Ayana Midplaza Hotel, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (28/6/18).

Senada dengan Wapres JK, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengatakan, pihaknya akan menunggu hasil penghitungan dari KPU atau real count di Pilkada Makassar. “Kami menunggu penghitungan resmi dari KPU dulu, masih quick count,” kata Mendagri di Lapangan Silang Monas, Jakarta Pusat, Jumat (29/6). [ipk]

Bagikan Ini :