Foto/telusur.co.id

telusur.co.id – SORE hari sembari semilir angin laut bertiup. Orang Manula duduk sendiri di beranda rumahnya, Jl. Koperasi Mina Bahari Eretan Wetan, salah satu desa nelayan di Indramayu Jawa Barat, Dharma Wihadi berumur sekitar 80 th, tokoh masyarakat pendiri Koperasi Nelayan Mina Bahari (KNMB) di desa ini.

Sekilas melihat sosok manusia ini biasa-biasa saja tanpa mengajaknya ngobrol lebih dalam. Maklum dia merasa terasing dari generasinya, teman-temannya sudah banyak mendahuluinya, tambah lagi dia sudah lama , sekitar 5 tahun yang lalu ditinggalkan isteri tercintanya Hj. Antisah. Dia tinggal di rumahnya sendirian, putra-putrinya 10 orang sudah berkeluarga dan menetap di berlainan tempat, Jakarta, Bandung, Indramayu bahkan ada juga di negara Kincir Angin Belanda. Dia tetap mandiri dan tidak mau merepotkan anak-anaknya. “Ah saya sampai meninggal mau tetap di rumah ini, rumah perjuangan jaman bengen”, katanya dengan sepotong bahasa daerah setempat sambil menunjuk rumahnya.

Begitu mantan tokoh Ansor ini dipancing cerita masa lalunya, mengalir keluar dari mulut cerita keterlibatan dirinya, baik untuk keluarga maupun buat masyarakat dengan nada semangat tinggi dan agak berapi-api, seakan tak imbang dengan umurnya sudah di usia lanjut. ” Waktu sekitar tahun 1960-an, sayalah yang merintis dan mendirikan koperasi nelayan itu, hanya ditemani satu orang saya menghimpun anggota dan menghubungi pihak terkait”, kata juragan ikan masa lalu ini.

“Tidak sedikit orang-orang yang ini menghambat niat dan usaha baik seorang Dharma muda, karena ada yg merasa tersaingi dan pertengkulakan ikan tidak bebas lagi dalam menetapkan harga, harga tengkulak”, kata dengan bangga.

Namun karena perjuangan nya ini gigih dan ikhlas, berhasil dengan baik, dan sampai sekarang koperasi nelayan Mina Bahari ini berjalan dan berkembang dengan aset bermilyaran rupiah. Perjuangannya tak sia-sia dan dapat dinikmati oleh para keluarga nelayan dan masyarakat sekitarnya dalam hal terutama ekonomi.

Namun sayangnya dia tidak menciptakan generasi penerus dari kalangan keluarganya/putra-putrinya. Sehingga tidak ada anaknya yang terjun dalam bidang usaha perikanan dan terlibat dalam koperasi ini. Kesannya memang dia sengaja agar tidak menciderai kerja kebaikan dan kerja kesolehan. Kalau pun dia mau, tampaknya tidak ada masalah karena dia terhitung juragan besar yg mempunyai puluhan kapal nelayan saat itu.

Bicara soal Ansor, dialah ketuanya. Untuk pembelian lahan sepak bola dan alat-alat drumband, dia rela menjual sawahnya tanpa sepengetahuan isteri untuk membeli keperluan ini. Setelah itu baru dia kasih tahu Antisah isterinya. “Kalau Bapak kasih tahu dulu, pasti emih tidak boleh. Biasa perempuan umumnya merasa kurang terus”, katanya memberi alasan.

Di akhir usianya, keperluan hidup sehari-hari didapatinya dari hasil sewaan sawahnya. Untuk mamak hidup cukup, tidak merepotkan anak-anaknya. “Alhamdulillah mamak ada pensiunan juga dari hasil kerja keras masa muda dulu”. Imbuhnya dalam mengakhiri perbincangan dengan telusur.co.id (Red/Far).

Laporan: Azkar Badri

Bagikan Ini :