telusur.co.id – Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Generasi, Ena Nurjanah, mengimbau agar pemerintah pusat dan daerah segera berbenah memperbaiki tranportasi laut.

Hal tersebut disampaikannya terkait tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun di Danau Toba, Sumatera Utara, telah menelan ratusan jiwa, termasuk diantaranya anak-anak.

“Peristiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun seharusnya menjadi tonggak awal bagi pemerintah pusat dan pemerintahan daerah agar serius berbenah diri memperbaiki moda transportasi air,” ujar Ena dalam keterangannya tertulis yang diterima telusur.co.id, Selasa (3/7/18)

kata Ena, sejumlah korban yang menaiki KM tersebut sebagian besar adalah mereka yang sedang berwisata menikmati liburan pada Hari Raya Idul Fitri. Situasi yang seharusnya menyenangkan bagi anak-anak telah berubah menjadi peristiwa yang menghilangkan nyawa mereka.

Akibat peristiwa itu, telah menimbulkan traumatik yang mendalam bagi anak-anak yang selamat.

“Dan, ini membuat anak-anak yang tahu akan peristiwa tersebut menjadi cemas akan keamanan berwisata menggunakan Kapal Motor di Danau Toba” paparnya,.

Selain itu, tenggelamnya KM Sinar Bangun ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Ena menduga, banyak sekali peraturan yang dilanggar baik oleh pemilik kapal, nahkoda, bahkan juga pegawai pelabuhan.

Oleh sebab itu, Ia meminta agar Kementerian Perhubungan, Kementerian Pariwisata dan Kemenko Kemaritiman segera mencari solusi atas kejadian ini seperti ini agar tak terulang kembali.

Kecelakaan yang menimpa wisatawan saat menggunakan Kapal Motor bukan yang pertama yang terjadi. Pada 1 januari 2017 lalu, juga terjadi peristiwa kebakaran KM Zahro Express di Teluk Jakarta yang membawa wisatawan menuju kepulauan seribu dan menewaskan 23 orang.

“Pemerintah seharusnya mampu menjamin keselamatan dengan menyediakan fasilitas kendaraan wisata yang memadai,” tukas dia

Seperti diwartakan, KM Sinar Bangun tenggelam pada Senin (18/6/18) sekitar pukul 17:15 WIB, saat berlayar dari Pelabuhan Simanindo, Pulau Samosir, menuju ke Tigaras, Kabupaten Simalungun.

Kapal tersebut memuat hampir 200 penumpang dan mengangkut serta sekitar 65 kendaraan roda dua. Padahal, seharusnya KM tersebut hanya berkapasitas 43 penumpang dan tidak diperuntukan mengangkut kendaraan roda dua.

Kapal tersebut juga berangkat saat cuaca buruk, meskipun sebelumnya sudah ada peringatan dari BMKG agar tidak melakukan perjalanan. Dan yang paling parah adalah tidak tersedia pelampung ataupun ban keselamatan yang memadai untuk penumpang yang ada di kapal.[far]

Bagikan Ini :