telusur.co.id – Hubungan antara Arab Saudi dengan Rusia semakin mesra karena minyak dunia. Bahkan, Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih membahas perkembangan pasar minyak dengan mitranya dari Rusia, dan keduanya sepakat untuk terus berkoordinasi erat untuk kepentingan produsen, konsumen dan ekonomi global.

Falih berbicara dengan Menteri Energi Rusia Alexander Novak pada hari Senin dan membahas kebutuhan untuk memodifikasi proses pemantauan saat ini sesuai dan setuju untuk tugas komite gabungan OPEC dan non-OPEC yang dikenal sebagai JTC dengan mengembangkan dan merekomendasikan proses yang cocok untuk dipertimbangkan oleh menteri Panel JMMC.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) setuju dengan Rusia dan sekutu-sekutu penghasil minyak lainnya bulan lalu untuk meningkatkan output dari Juli, dengan Arab Saudi menjanjikan dorongan pasokan yang “terukur” tetapi tidak memberikan angka-angka tertentu.

Seperti diketahui, akibat sikap Amerika Serikat yang memboikot Iran membuat harga minyak  jatuh pada perdagangan Senin (2/7), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan terjadi akibat meningkatnya produksi minyak Arab Saudi dan Rusia di tengah gejolak perekonomian di Asia usai memanasnya sengketa perang dagang dengan AS.

Dilansir dari Reuters, Selasa (3/7), harga minyak mentah berjangka Brent merosot US$1,93 menjadi US$77,3 per barel. Dalam sesi perdagangan, harga Brent sempat merosot 2,4 persen akibat berbagai pemberitaan pada akhir pekan yang memicu kekhawatiran pasar. Padahal, pekan lalu Brent melonjak lebih dari 5 persen.

Sementara, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate merosot US$0,21 menjadi US$73,94 per barel.

Premi antara harga minyak mentah AS awal bulan dengan bulan kedua melebar sebesar S$2,38 per barel, terlebar sejak 20 Agustus 2014. Pergerakan tersebut mengindikasikan ekspektasi pasar terhadap kurangnya pasokan akan terjadi lebih parah dalam jangka pendek.  (ham)

Bagikan Ini :