telusur.co.id – Proses pencarian dan evakuasi Kapal Motor Sinar Bangun, serta para korban yang belum di ketemukan, di Danau Toba, Sumatera Utara, akan dihentikan.

Protes penghentian itu pun mendapat banyak kecaman dari berbagai pihak, meski pemerintah mengklaim telah mendapat persetujuan dari pihak keluarga korban.

Bahkan, pada pencarian di hari ke-15, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan mengunjungi wilayah perairan Danau Toba untuk turut melakukan tabur bunga.

Terkait rencana penghentian itu, mantan Menteri Kehutanan RI, Malam Sambat Kaban atau yang biasa dipanggil MS Kaban menilai penghentian pengangkatan kapal dan jenazah menunjukan jika pemerintah terlalu meremehkan nyawa manusia.

Hal itu disampaikan mantan orang nomor satu di Partai Bulan Bintang (PBB) itu, melalui akun twitter miliknya, @hmskaban, yang terpantau telusur.co.id, Selasa (3/7/18).

Klau Menko LBP ingin hentikan pengangkatan kapal dan zenazah kapal Sinar Bangun sungguh banyak yg kecewa terhadap Pemerintah terlalu meremehkan nyawa manusia. Danau Toba yg indah jgn jadi danau serba ‘bangkai’. Biaya angkat lbih kecil dari pertm World Bank IMF di Bali,” tulis Kaban.

Sebelumnya, Kepala Kantor SAR Medan, Budiawan, mengatakan, untuk musyawarah penghentian pencarian korban KM Sinar Bangun dilakukan bersama antara Basarnas dan pihak keluarga dimotori oleh Pemerintah Kabupaten Simalungun.

“Kami kemarin sudah ada musyawarah antara Tim SAR Gabungan, keluarga korban, yang dimotori Bupati Simalungun Jopinus Ramli Saragih,” kata Budiawan kepada wartawan, Senin siang (2/7/18).

Untuk saat ini, keberadaan korban dan diduga KM Sinar Bangun berada di kedalaman 450 meter di Perairan Danau Toba. Budiawan mengatakan, prosesi terakhir akan dilakukan tabur bunga di Danau Toba sebagai wujud keikhlasan keluarga korban untuk pencarian seluruh korban.

“Bahwa keluarga korban sejumlah 164 orang itu akan diikhlaskan,” kata Budiawan.

Sementara itu, di hari ke-15 pencarian, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan juga mengunjungi wilayah perairan Danau Toba untuk turut melakukan tabur bunga.

“Hari ini juga kami kedatangan menko Maritim, juga akan dilakukan tabur bunga di Danau Toba. Besok dilakukan tabur bunga,” kata Budiawan.

Proses pencarian pertama dilaksanakan 18-24 Juni 2018. Perpanjangan masa pencarian pertama 25-27 Juni 2018. Kemudian, perpanjangan masa pencarian untuk kedua kalinya, 28-30 Juni 2018. Untuk perpanjangan pencarian ketiga kalinya, 1-3 Juli 2018.

Untuk saat ini, Tim SAR Gabungan baru berhasil mengevakuasi 24 orang. Sebanyak 21 orang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat dan tiga orang dalam keadaan meninggal dunia. Kemudian, 164 orang masih dinyatakan hilang hingga saat ini.

Sementara itu, suasana lawatan Luhut Binsar Panjaitan ke posko Tim Pencarian KM Sinar Bangun di Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun, Senin kemarin, diwarnai perdebatan.

Luhut terlibat adu argumen dengan pegiat sosial Ratna Sarumpaet yang menolak usul penghentian pencarian korban tenggelam kapal nahas itu.

Ratna mengaku sempat berdebat dengan Luhut. Dia menyatakan tidak puas dengan sikap pemerintah yang hendak menghentikan pencarian korban KM Sinar Bangun, dalam operasi yang sudah digelar selama 15 hari.

“Saya marah karena mereka (pemerintah) sudah sepakat menghentikan pencarian korban. Kemarin sudah ada doa bersama, tabur bunga, yang dianggap pencarian selesai,” kata Ratna.

Ratna mengaku sengaja datang ke Simalungun atas nama Ratna Sarumpaet Crisis Center. Dia turut membawa sejumlah staf.

Ratna mengatakan saat itu kehadirannya mewakili para keluarga korban mengkritik keputusan pemerintah yang hendak menghentikan operasi pencarian. Dia menyatakan tidak terima dengan alasan pemerintah soal jangka waktu operasi hingga kesulitan medan dalam mengevakuasi korban.

Menurut Ratna, ada kesan pihak keluarga korban ‘ditekan’ dalam pertemuan dan dialog dengan rombongan pemerintah daerah beserta Menteri Luhut. Dia juga menyatakan sejumlah keluarga korban mengaku kepadanya saat itu sudah dalam kondisi yang serba sulit. [ipk]

Bagikan Ini :