Foto: telusur.co.id

telusur.co.id – Rencana kepergian Moeldoko dari Partai Hanura dirasa tidak akan berimbas banyak kepada perolehan suara partai pimpinan Oesman Sapta, dalam Pemilu 2019 nanti.

Demikian pendapat Direktur Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo, saat dihubungi telusur.co.id, Selasa (3/7/18).

Disampaikan Karyono, meski posisi Hanura berdasarkan beberapa lembaga survei membahayakan, karena perolehan suara nasionalnya diperkirakan tidak lebih dari 3,5 persen, namun hasil survei itu belum gambarkan realita pada Pemilu April 2019 nanti.

Karena, kata dia, survei itu dilakukan satu tahun sebelum pemilihan. Sehingga, Hanura masih bisa untuk lolos dan juga tidak lolos.

“Itu tergantung bagaimana Hanura menata partai, membuat program yang bisa menarik pemilih,” kata Karyono.

Dirinya tidak membantah jika salah satu nilai jual Hanura adalah toko-tokoh sipil maupun militer. Sebab, tokoh-tokoh itu memang memiliki pengaruh dalam perolehan suara.

“Dengan rencana mundurnya pak Moeldoko tentu bisa pengaruhi Hanura, tetapi kalau ditanya seberapa besar ya tidak besar. Itu tergantung pada kinerja caleg Hanura, bagaimana mereka melakukan terobosan yang menarik pemilih, salah satunya endorsement tokoh.”

Menurutnya, saat ini Hanura sudah diuntungkan dengan banyaknya aktivis-aktivis 98. Hal itu, kata dia, bisa menjadi modal hanura untuk perbaiki performance partai.

“Sekarang teman-teman aktvis 98 paling banyak saat ini di Hanura. Itu bisa menjadi modal Hanura mengajak pemilih muda. Selama Hanura membuat terobosan program yang bisa menarik pemilih, maka tidak mungkin Hanura tidak lolos Parliamentary Trashold,” kata dia.

(Baca: Langkah Moeldoko Mundur Dari Hanura Harus Jadi Contoh Buat Airlangga)

Sebelumnya, Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko sudah berpamitan ke Partai Hanura. Dia memutuskan untuk mundur dari jabatan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Hanura, demi fokus mengerjakan tugasnya sebagai pejabat negara, yakni Kepala Staf Presiden. [ipk]

Bagikan Ini :