telusur.co.id – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) adalah partai yang jago dalam memenangkan pemilihan umum (Pemilu).

Begitu disampaikan Budayawan, Eros Djarot dalam acara diskusi “Peta Kekuatan Capres Pasca Pilkada Serentak” , di Kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (5/7/18).

Namun sayang, PDIP selalu kalah dalam memangkan posisi-posisi penting di dalam roda pemerintaha.

“PDIP itu jagonya menang pemilu, tapi kalah di segala lini. Susun kabinet kalah, DPR kalah, MPR kalah. ya begitu,” kata Eros Djarot.

Berdasarkan catatan redaksi telusur.co.id, sejak zaman Bung Karno hingga selepas zaman reformasi, partai itu identik dengan wong cilik, marhaen atau rakyat tertindas.

Karena identifikasi itu, tentu saja basis perolehan suara PDIP berasal dari kaum rakyat kecil. Berkat suara kaum marhaen dan wong cilik, PDIP bisa eksis dan bertahan hingga hari ini.

Perolehan suara PDIP memang mengalami naik turun sejak zaman rezim fasis militer Soeharto hingga 20 tahun reformasi.

Untuk periode 2014 hingga 2019, PDIP lagi-lagi mendulang suara terbanyak untuk pemilihan legislatif. Kendati memiliki perwakilan terbanyak di parlemen, PDIP lagi-lagi tidak pernah mampu mendudukkan kadernya sebagai pimpinan DPR.

Itu, bukan kali pertama terjadi, sejak zaman rezim Soeharto hingga mendulang suara terbanyak untuk kali pertama pada periode 1999 hingga 2004, partai berlambang banteng itu selalu gagal menduduki kursi nomor satu di DPR. [ipk]

Bagikan Ini :