Foto/Net

telusur.co.id – Direktur Polcomm Institute Heri Budianto menyarankan kepada Presiden Jokowi menggaet tokoh non parpol sebagai Calon Wakil Presiden (Cawapres) di Pilpres mendatang.

Menurutnya, pilihan Cawapres non parpol agar tidak menimbulkan kecemburuan dari parpol-parpol pendukung. Apalagi, Jokowi diusung oleh banyak parpol. Mengambil wakil dari kalangan professional, bisa menjadi jalan tengah dalam menjaga kekompakan koalisi.

“Karena partai pengusung banyak, jadi kalau memilih cawapres dari satu parpol, pasti akan menimbulkan kecemburuan. (Mundurnya Moeldoko dari Hanura) Seperti membuka peluang, paling tidak, akan dilirik Jokowi karena posisinya netral,” kata Heri kepada wartawan, Kamis (5/7).

Begitu halnya dengan ambisi sejumlah ketua umum partai pendukung untuk maju sebagai cawapres, Heri menilai hal itu lumrah. Karena setiap parpol pasti menginginkan kader terbaik duduk dalam kursi pemerintahan. Maka tidak terhindarkan bagi parpol menyodorkan para ketua umum-nya untuk mendampingi Jokowi.

“Semua punya peluang, apalagi tokoh-tokoh netral, karena Jokowi resisten untuk mengambil tokoh partai. Tidak berparpol lebih menguntungkan,” ujarnya.

Apalagi bila berkaca pada hasil Pikada serentak kemarin, pengamat politik dari Lingkar Madani (Lima), Ray Rangkuti mengatakan bahwa beberapa tokoh non partai politik terbukti cukup berkualitas dan memenangi pertarungan. Contohnya Ridwan Kamil yang tidak diusung partai-partai besar di Jawa Barat.

“Tentu ini pertimbangan buat Jokowi mengambil kandidat non partai,” ucap Ray, di kesempatan berbeda.

Oleh karena itu, ia mewanti-wanti agar para pimpinan partai tidak sekadar menjadikan kendaraannya sebagai alat tawar kepada Presiden Joko Widodo dalam menentukan calon wakil pendampingnya.

Sejauh ini, Ray melihat ada kecenderungan beberapa pimpinan partai politik seperti Airlangga Hartarto (Golkar), Romahurmuziy (PPP) dan Muhaimin Iskandar (PKB) yang seolah sudah siap dilamar Jokowi bermodalkan dukungan partai politik pada kontestasi Pilpres 2019. (ham)

Bagikan Ini :