Foto: telusur.co.id

telusur.co.id – Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Jakarta, Ujang Komarudin menilai mundurnya Moeldoko dari Partai Hanura bisa dianggap sebagai itikad baik untuk optimal bekerja bagi negara.

“Saya kira beliau (Moeldoko) ini memberikan contoh dan konsistensi yang baik sebagai pejabat negara yang diberi amanat membantu pemerintahan,” ungkap Ujang kepada wartawan, Kamis.

Memang, dikatakan dia, Kepala Staf Presiden (KSP) sebagai pejabat setingkat menteri harus melepaskan jabatan di partai atau non aktif, supaya tidak menggangu ritme di pemerintahan . “Harusnya mundurnya Moeldoko menjadi contoh bagi pengurus partai lain yang saat ini masih menjabat,” katanya.

Yang lebih penting, Moeldoko juga memperlihatkan kepada masyarakat bahwa sebagai pejabat publik harus menghindari conflict of interest dari jabatan yang telah diamanatkan oleh Presiden Jokowi. “Memang kader politik ketika mengabdi untuk bangsa dan negara harus fokus tidak rangkap jabatan,” tutur Ujang yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR).

Sementara itu, Ketua Bidang Perekonomian DPP PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno menyatakan penentuan kandidat cawapres pendamping Jokowi menjadi kewenangan para ketua umum (Ketum) partai pengusung. “Itu urusan dan kewenangan ketum,” ungkap Hendrawan.

Hendrawan meyakini para ketum partai politik yang mengusung Jokowi, dengan kearifan akan saling berkomunikasi bersama dengan capres yang didukung untuk menentukan cawapres yang cocok.

“Saya yakin para ketum sudah memiliki daftar prioritas yang siap dibicarakan,” ujar pria bergelar profesor itu.

Hendrawan meminta publik bersabar menunggu kepastian nama cawapres yang akan disandingkan dengan Jokowi pada Pilpres 2019 karena perlu analisa mendalam.

Terkait persoalan calon pendamping Jokowi dari unsur partai politik atau non partai, Hendrawan menyatakan hal itu tidak harus menjadi dikotomi karena tidak substansial.

Sebaliknya, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko sendiri, hari ini (Kamis, 5/7) kembali menepis isu yang mengaitkan kemundurannya dari Hanura dengan menguatnya namanya dalam bursa calon wakil presiden (cawapres) Joko Widodo (Jokowi).

“Itu spekulasi saja. Spekulasi yang saya juga sudah baca beberapa tulisan yang seolah-olah saya mundur itu karena ingin ada niat yang lain,” kata Moeldoko di Hotel Borobudur, Kamis (5/7).

Dia menegaskan, kemunduran dirinya dari partai yang dinakhodai oleh Oesman Sapta Odang alias Oso karena ingin fokus sebagai Kepala Staf Presiden. (ham)

Bagikan Ini :