Prof.Dr. Syaiful Bakhri, SH.MH (Ahli Hukum) | Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)

Telah dikemukakan bahwa pendidikan merupakan salah satu sarana yang dapat dijadikan pengembangan modal sosial (social capital). Modal sosial sendiri dapat berarti SDM (Sumber Daya Manusia) yang mempunyai kejujuran, kepercayaan, kesediaan, dan kemampuan untuk bekerja sama, berkoordinasi, penjadwalan waktu dengan tepat, dan kebiasaan untuk berkontribusi dalam upaya pembangunan (Ardi Kapahang dkk., 2001).

Menurut Fukuyama (1999), modal sosial adalah serangkaian nilai atau norma sosial yang dihayati oleh anggota kelompok, yang memungkinkan terjadinya kerja sama di antara para anggotanya. Lebih lanjut diketahui, bahwa salah satu modal sosial yang terpenting adalah  trust, yakni keyakinan bahwa para anggota masyarakat dapat saling berlaku jujur dan dapat diandalkan.

Jadi, pengembangan modal sosial dapat berarti terciptanya insan yang sempurna. Jika ini yang diharapkan, berarti era globalisasi merupakan tantangan sendiri. Pada era ini lembaga pendidikan, di samping harus menciptakan SDM yang mampu berkompetensi dan berprestasi, juga harus dapat menyiapkannya agar mampu menghadapi akulturasi budaya yang luar biasa, terutama dari negara-negara Barat.

Artinya, pada era globalisasi ini dunia pendidikan dituntut mempunyai peran ganda. Pertama harus mempersiapkan manusia yang berkualitas dan mampu berkompetisi sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi, atau manusia yang mempunyai kesiapan mental dan sekaligus kesiapan kemampuan skill (profesional). Kedua, yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana dunia pendidikan ini mampu menyiapkan manusia yang berakhlak mulia.

Dengan demikian, pada satu sisi, proses pendidikan harus dapat menyiapkan anak didik yang dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat sekarang dan akan datang, masyarakat yang semakin lama semakin sulit diprediksi karakteristiknya. Hal ini dikarenakan di era kehidupan global ini, dengan adanya berbagai penemuan dalam bidang teknologi informasi, orang harus dapat membelajarkan diri dalam suatu proses pendidikan yang bersifat maya (virtual).

Implikasinya, bahwa pendidikan harus mampu mempersiapkan bangsa ini menjadi komunitas yang terberdayakan dalam menghadapi kehidupan global yang semakin lama semakin menggantungkan diri pada teknologi informasi (Suyanto, 2004). Sisi lain, proses pendidikan tidak boleh mengenyampingkan pembentukan kepribadian.

Masyarakat sekolah haruslah masyarakat yang berakhlak. Kampus, misalnya, bukan semata-mata hanya wahana untuk meningkatkan kemampuan intelektual, tetapi juga kejujuran, kebenaran, dan pengabdian kepada masyarakat. Secara keseluruhan budaya kampus adalah budaya yang berakhlak mulia. Kampus semestinya menjadi pelopor dari perubahan kebudayaan secara total yang bukan hanya nilai-nilai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga tempat persemaian dari pengembangan nilai-nilai akhlak kemanusiaan (Tilaar, 2002: 76).

Pendidikan memang erat kaitannya dengan pembentukan mental yang berakhlak. Sebagaimana digariskan oleh kaum eksperimentalis, bahwa pendidikan itu tidak hanya berarti memberikan pelajaran kepada subjek didik agar dapat menyesuaikan diri terhadap situasi kehidupan nyata, tetapi lebih dari itu adalah tempat meningkatkan kualitas hidup manusia dengan mempertinggi pengalaman moral (Imam Barnadib, 1996: 20).

Demikian pula, aliran esensialisme dan perenialisme menyatakan, bahwa di samping proses pendidikan bertujuan untuk pembentukan kecerdasan, tetapi juga bagaimana pendidikan dapat membentuk tingkah laku yang cerdas sebagai tujuan utama. Mereka tidak memungkiri kenyataan bahwa pendidikan itu adalah sarana tempat pembentukan watak atas nilai-nilai budaya yang luhur. Sementara itu, terbentuknya watak, kepribadian, dan kualitas manusia yang lain tidak dapat dilepaskan dari kecerdasan tingkah laku seseorang (Imam Barnadib, 1996: 36).

Dari arti pendidikan tersebut menunjukkan, bahwa masalah akhlak (pembentukan kepribadian) adalah tidak dapat ditinggalkan, bahkan menjadi tujuan utama pendidikan. Dikatakan, tujuan primer dan tertinggi usaha pendidikan adalah peningkatan (tarbiyah) nilai kesucian manusia dalam fitrahnya yang dianugerahkan Tuhan.

Setelah itu, baru mengarah kepada tujuan sekunder yang semata-mata untuk menopang tujuan primer tersebut, yaitu sebagai investasi modal manusia (human capital investment) dengan dua macam dampaknya. Pertama, dampak peningkatan kemampuan kerja dengan keahlian dan profesionalisme. Kedua, berkaitan dengan tujuan pokok pendidikan itu sendiri sesuai dengan bidang-bidang yang dikembangkannya, seperti teknologi, kesehatan, manajemen, pertanian, keguruan, dan sebagainya (Nurcholis Madjid, 2004: 149).

Intinya, dalam alam era globalisasi ini, tugas pendidikan, khususnya di Indonesia, di samping harus mampu menyiapkan manusia yang mampu berkompetisi, tetapi juga harus mampu menyiapkan peserta didik agar dapat menghadapi akulturasi budaya yang luar biasa, terutama dari Barat.

Namun, perlu ditekankan, sebenarnya derasnya arus budaya mancanegara ke Indonesia bukanlah preseden buruk bagi rakyat apabila mampu menyaring, mengambil yang baik, dan meninggalkan yang buruk (M. Imam Zamroni, 2004: 213) Pendidikan harus dapat berperan sebagai alat yang ampuh untuk menyaring budaya-budaya yang masuk dan sekaligus menguatkan budaya lokal yang memang masih perlu dijunjung.

Dengan demikian, lembaga pendidikan dituntut, misalnya, harus menciptakan kurikulum yang dapat memberdayakan tradisi lokal, supaya tidak punah karena pengaruh globalisasi yang tidak lagi mengenal sekat-sekat primordial dan batas-batas wilayah bangsa.

Sementara itu, para pendidik yang berposisi sebagai sumber nilai, harus orang yang selalu dapat ditaati dan diikuti (Mochtar Buchori, 1994: 105). Untuk itu, pendidik dituntut harus selalu berusaha membekali dirinya agar dapat menjadi tauladan. Sebagai orang yang berilmu, pendidik semestinya harus selalu menghindarkan diri dari segala akhlak dan perbuatan yang tercela, memelihara diri dari kenistaan, seperti tamak (mengharap sesuatu dari orang lain secara berlebih-lebihan), sehingga tidak menimbulkan kesan yang hina terhadap ilmu dan sifat ilmuwan yang disandangnya.

Demikian pula, orang yang berilmu hendaknya bersifat tawadlu (merendahkan hati tetapi bukan minder), dan jangan bersifat sebaliknya (sombong), serta haruslah memiliki sifat iffah (memelihara diri dari beragam barang haram dan tidak baik) (Miftahuddin, 2006: 245).

Keluarga memang memegang peranan yang penting untuk mengarahkan anak-anak, sehingga keberadaan televisi ini bukan malah membuat anak malas akan tetapi sebaliknya. Selanjutnya, perlu diakui bahwa dalam era sekarang ini kemerosotan akhlak tengah menggejala di tengah-tengah masyarakat.

Menurut Sri Hartana (2004), kemerosotan akhlak akibat globalisasi ini ditandai dengan bobroknya perilaku umat manusia. Perilaku malima (madat, main, minum, madon, maling) seolah telah menjadi budaya yang sulit dihindari. Malima seakan menjadi “panglima” dalam sebuah komunitas masyarakat yang sedang “sakit”. Banyak orang yang beranggapan di zaman edan ini, yen ora melu ngedan, mangka ora bakal kumanan.

Bahkan penelitian BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) menyebutkan, 30 persen remaja melakukan free sex. Hal ini merupakan temuan mengejutkan sekaligus sangat memprihatinkan. Untuk mencegah hal itu, lingkungan keluarga mempunyai peran penting untuk mengontrol, karena pola pendidikan agama, akhlak, dan perhatian keluarga akan sangat berpengaruh terhadap pergaulan anaknya. Bahkan kini sudah menjadi hal penting, orang tua harus memberikan pendidikan sex yang baik dan benar pada anaknya. (http://intra.aidsindonesia. or.id/index.php?option=com).

Keluarga merupakan taman pendidikan pertama, terpenting, dan terdekat yang bisa dinikmati anak. Pentingnya peranan orang tua dalam mendidik anak adalah memberikan dasar pendidikan, sikap, watak, dan ketrampilan dasar seperti pendidikan agama, budi-pekerti, sopan-santun, estetika, kasih sayang, rasa aman, dasar-dasar mematuhi peraturan, serta menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan disiplin.

Di lingkungan keluargalah seorang anak manusia mengenal nilai dan norma kehidupan. Diketahui, di era globalisasi, dampak budaya dan kemajuan teknologi merupakan wahana “penjajahan” bagi budaya yang dominan. Nilai-nilai budaya dominan ini, yang sebagian besar tidak sesuai dengan timbangan budaya Indonesia, sudah menembus kamar-kamar dan sekeliling masyarakat. Untuk itu, keluarga bisa dimetafora sebagai sebuah benteng yang mampu menciptakan ‘imunisasi’ bukan “sterilisasi”(Gunaryadi, 2006). (bersambung)

Oleh Prof. Dr. Syaiful Bakhri, SH. MH

Bagikan Ini :