Denpasar, Telusur.co.id – Nama besar Pak Oles sangat dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat Bali dari tua hingga anak-anak sekalipun. Hanya saja, masih ada yang masih belum tahu siapa nama aslinya, yakni Gede Ngurah Wididana.

Siapa sangka, pria setengah baya asli Bali Utara ini tepatnya di Desa Bengkel, Kecamatan Busung Biu, Kabupaten Buleleng ini memiliki latar belakang seorang sarjana pertanian dari Universitas Udayana dan Master of Agriculture dari University of The Ryukyus, Jepang.

Saat ini dirinya sedang menempuh pendidikan di Program Doktoral  IHDN, Denpasar. Di sela-sela kesibukannya mengurus bisnis, politik, studi, dan bermasyarakat. Pak Oles tetap terlihat santai.

Pria berkepala plontos ini memiliki motto hidup yang menarik yakni “santai tapi serius”.  Gede Ngurah Wididana awalnya memperkenalkan namanya dengan logo GNW di sejak 1997.

Bahkan, logo GNW ada dalam lambang perusahaan Pak Oles. Akan tetapi justru nama Pak Oles lebih ngetop daripada GNW.

Hal ini tidak membuat GNW tidak menyesali hal itu, justru nama Pak Oles yang semakin ngetop akan meningkatkan citra perusahaannya sebagai brand image yang baik. Menurutnya tentu ada masalah serius untuk memperkenalkan nama GNW sebagai Gede Ngurah Wididana. Dia memperkenalkan logo baru GNW untuk dirinya di Partai Demokrat sebagai caleg DPR RI 2019.

Di tengah kesibukannya di dunia bisnis dan politik, Gede Ngurah Wididana juga melakukan program pelatihan pertanian organik di desanya kepada generasi muda dan masyarakat luas dari seluruh Indonesia, sejak 1997.  Dia juga aktif sebagai penulis buku kepemimpinan dan motivasi, serta sebagai pembicara seminar pertanian, bisnis, motivasi dan kepemimpinan.

Gede Ngurah Wididana juga memiliki program belajar Bahasa Jepang ke Okinawa sambil bekerja yang bekerjasama dengan bekerja sama dengan JSL (Japan as Second Language) Indonesia. Kesibukannya menjadi semakin lengkap karena dia juga menhadi peneliti pertanian organik di yayasan Institut Pengembangan Sumbet Daya Alam, yang berafiliasi secara internasional dengan lembaga penelitian pertanian organik.

Kesibukannya dalam bidang politik dilakukan pada sore dan malam hari. Pagi hari, saat subuh dia sibuk membaca dan membuat konsep kerja. Siang hari dia sibuk mengurus bisnis.

Tidurnya cukup 4 jam saja, saat tengah malam dan di dalam mobil saat melaju menuju ke tempat kerja yang tersebar di seluruh Bali.

“Hidup ini harus dilakoni dengan serius tapi juga harus bisa santai, agar tidak stres,” selorohnya pada satu kesempatan, saat ditemui di kediamannya beberapa waktu lalu. (MADE ARIAWAN)

Bagikan Ini :