Rizal Ramli/Net

telusur.co.id- Mantan menteri keuangan era presiden RI ke-4 Abdurahman Wahid, Rizal Ramli, menyatakan, bantuan lembaga International Monetary Fund (IMF), adalah biang keladi dari kasus Bantuan Likuiditas Bank Internasional (BLBI). IMF juga disebut hampir membuat BLBI bangrut.

Demikian disampaikan oleh Rizal saat menjadi saksi kasus BLBI di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (5/7/18) kemarin.

Menurut Rizal, bantuan internasional itu sama sekali tidak memberi manfaat bagi perbaikan perekonomian Indonesia.

Dia menceritkan, sebelum terjadinya krisis moneter pada 1998, saat itu menteri ekonomi di era Soeharto, mengundang IMF ke Jakarta. Namun, kedatangan IMF ini bukannya memperbaiki perekonomin di Tanah Air, malah membuat anjlok perekonomian hingga 13 persen.

Rizal mengku, dirinya satu-satunya ekonom yang menolak headiran IMF. Penolakkan tersebut, karena belajar dari pengalaman di Amerika Latin. Kedatangan IMF ke Amerika Latin membut perekonomin di negara-negara kawasan itu semakin terpuruk.

“Setelah IMF masuk, dia sarankan tingkat bunga bank dinaikkan dari 18 persen rata-rata jadi 80 persen,” ucapnya.

“Dampaknya, banyak perusahaan yang sehat jadi bangkrut, tidak tahan dengan bunga segitu,” sambung Rizal

Ketiak IMF datang ke Indonesia, mereka  memerintahkan pemerintah untuk menutup 16 bank-bank kecil. Akibat perintah IMF ini, membuat masyarakat gusar dan tidak percaya lagi dengan seluruh bank di Indonesia, termasuk swasta.

“Mau menarik uang. Seperti BCA, Danamon, bank-bank itu nyaris bangkrut,” imbuhnya.

Akhirnya, pemerintah terpaksa suntik BLBI, dengan uang sekitar 80 miliar dolar.

“Ini termasuk langkah penyelamatan bank terbesar di dunia,”ungkapnya.

Terakhir, tandas Rizal, pada 1 Mei 1998, IMF memaksa pemerintah menaikan harga BBM hingga 74 persen.

Mantan menteri kemaritiman ini menyebut, saat itu, dirinya sudah memperingatkan agar sebaiknya tidak dilakukan. Mengingat, suasana sosial sedang “panas”. Namun, pada 1 Mei presiden Soeharto menaikan harga BBM.

“Besoknya langsung terjadi demonstrasi besar-besaran. Akibat tiga kebijakan ini terjadilah kasus BLBI,” tutup di.[far]

Bagikan Ini :