ilustrasi/net

telusur.co.id – Komisi Pemilihan Umum Kota Makassar telah menetapkan kolom kosong sebagai pemenang, di Pemilihan Wali Kota Makassar 2018.

Kotak kosong unggul dari pasangan calon tunggal, Munafri Arifuddin-Rachmatika Dewi (Appi-Cicu) yang meraup 47 persen atau 264.245 suara. Sedangkan kotak kosong 53 persen atau 300.795 suara.

Terkait kemenangan kota kosong, Koordinator Relawan Kolom Kosong (Rewako), Anshar Manrulu mengatakan jika itu buah dari perlawanan rakyat, hasil kerja rakyat bersama.

“Kita sudah melalui masa-masa melelahkan, menyusuri lorong-lorong dan mendatangi rumah-rumah rakyat. Kita sudah melalui masa-masa sulit, dicibir dan dianggap kumpulan orang-orang sakit hati dan berotak kosong. Semua itu, tidak membuat kita mundur, tidak membuat semangat kita kendor. Sebaliknya, berbaur ditengah-tengah rakyat, membuat energi kita makin berlipat ganda,” kata dia dalam keterangan kepada telusur.co.id, Minggu (8/7/18)

Sejak awal, kata dia, sudah sangat terasa ada penolakan dan perlawanan rakyat pada calon tunggal yang ada. Semakin kuat mereka berbicara tentang keunggulan program-programnya, kata dia, justru mendapat sambutan berbanding terbalik dengan pesimisme dan respons negatif yang makin luas di tengah rakyat.

“Mereka dianggap sebagai calon boneka yang hanya mewakili kepentingan kelompok bisnis tertentu, yang tidak akan mungkin membawa perubahan ke arah yang lebih baik,” kata dia.

Kekalahan pasangan Appi-Cicu, lantaran masyarakat menganggap calon itu lahir dari ambisi segelintir elit partai saja, yang dipaksakan dengan mengabaikan aspirasi rakyat.

“Bahasa-bahasa seperti ini sangat mudah kita dapatkan dilorong-lorong, warung kopi, sampai kawasan pemukiman rakyat sebelum hari pemilihan,” kata dia.

“Inilah loncatan kesadaran rakyat, inilah bentuk perlawanan rakyat di lapangan elektoral. Inilah cara rakyat menghukum partai-partai yang sudah memunggungi aspirasi mereka.”

Kemenangan kotak kosong, lanjutnya, adalah kemenangan rakyat. Bukti kedaulatan ada ditangan rakyat, bukan ditangan segelintir elit dan kekuatan olirgarki.

“Kemenangan ini kami anggap baru tahap awal. Kita sudah maju selangkah, memenangkan dukungan rakyat untuk menghalau calon tunggal yang ada berkuasa. Perjuangan selanjutnya adalah memperkuat barisan rakyat untuk memenangkan calon Wali Kota Makassar yang diinginkan rakyat pada tahun 2020. Siapa calon Wali Kota itu? Bila tiba masanya, rakyat Makassar yang akan menjawab,” kata dia.

Twitter

Sebelumnya, KPU Kota Makassar memastikan pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar akan diulang pada 2020 setelah kotak kosong dinyatakan menang dalam pemilihan Wali Kota Makassar 2018.

“Paslon tunggal Munafri Arifuddin dan Rachmatika Dewi itu tidak mencapai suara yang ditetapkan, maka pemilihan wali kota akan diulang di tahun 2020,” kata Komisioner Bidang Divisi Data dan Teknis KPU Makassar, Abdullah Manshur, di Makassar, Sabtu (7/7/18). [ipk]

Bagikan Ini :