Oleh : Maiyasyak Johan

telusur.co.id – Dering telepon mengusik ketenanganku yang sedang asyik membaca sebuah buku baru yang menarik pada pagi ini. Namun karena bukan kebiasaanku untuk tidak mengangkat telepon dari siapa pun itu, maka kuangkat telepon itu, dan sebelum ku tekan tombol untuk menjawab, ku lihat nama si penelepon, ternyata sahabat dan saudara ku se-iman, sungguh senang rasanya.

Seperti biasa, ucapan pertamanya adalah mengucapkan salam dan bertanya kabar diriku, keluarga dan anak-anak dan mendo’akan aku serta keluarga. Aku juga melakukan hal yang sama.

Selesai dengan pembicaraan awal yang dibangun diatas sunah Rasul SAW itu, ia membuka pertanyaan: “Yaa Akhi, apakah antum kenal dengan TGB”, tanyanya.

“In shaa Allah saya mengenalnya, dan dia juga mengenal saya. Tapi komunikasi kami cuma say hello, tidak pernah intens. Dia dulu anggota DPR RI dari PBB. Tapi sekarang dia demokrat”, jawabku.

“Apa latar belakang beliau (TGB) mendukung Jokowi 2 periode menurut antum. Dan Bagaimana menurut antum dengan penjelasannya di media ?”, tanyanya.

“apa latar belakangnya tentu saya tak tahu – dan cuma dia dan Allah SWT yang tahu. Begitu juga dengan penjelasannya di media. Namun ada sesuatu yang mengundang perhatianku dalam memandang sikap dan penyataannya itu”, jawabku.

“Apa itu?”, tanya sahabatku itu.

“Biasanya media mainstream tak pernah mengangkat apalagi menonjolkan seorang Tokoh Islam yang ber-ilmu dan dikategorikan sebagai ulama – termasuk TGB. Namun aneh, kali ini, media mainstream agak berbeda, kini mereka menonjolkan ke-ilmuannya – untuk menunjukkan dia juga adalah seorang ulama, dan dalam kapasitas itu dia mendukung Jokowi utk dua periode”, jawabku menjelaskan.

“Selain itu, bagaimana tentang berbagai kecurigaan dan penolakan publik terhadap pilihannya tersebut?”. tanya sahabatku lagi.

“Tentang itu saya tak bisa menjawabnya. Sekalipun sepintas soal Divestasi Saham PT. NTT dulu ketika saya di Komisi XI pernah saya ikuti, bahkan saya ikut dalam kunjungan kerja ke sana yang disambut oleh beliau sendiri – namun tidak tuntas, karena saya dipindahkan ke Komisi I. Sehingga bagaimana kelanjutannya, saya tak tahu, tetapi saya kira tetap harus dilakukan mengikuti ketentuan UU”. Jawabku

“Mungkinkah itu merupakan alasan yang tak terungkap dari sikap beliau”, tanyanya lagi.

“Tentang itu sungguh saya tak tahu. Karena antum bertanya tentang kemungkinan. Sedangkan kemungkinan kadang berisi syakwasangka sebagai muatannya, sementara syawasangka adalah sesuatu yang terlarang, apalagi terhadap saudara se-iman, jadi jawaban saya untuk itu saya cukupkan dengan Allahu’alam bissawab”.

“Sedangkan tentang penolakan dan kekecewaan publik dan umat Islam atas sikap TGB itu sah-sah saja – dan saya percaya TGB bisa memahami alasan mereka yang kecewa dan menolak sikapnya itu. Itu adalah konsekuensi dari atas sebuah pilihan”, jawabku.

“Terima kasih akhi, saya sependapat dengan antum, itu adalah konsekuensi yg harus bisa diterima TGB atas pilihan sikap politiknya”. Lalu setelah mengucapkan itu dan menyampaikan salam, pembicaraan pun kami akhiri.(Red/Ist).

  1. Maiyasyak Johan, Pimpinan Komisi III DPR RI 2004-2009, Anggota DPR RI 2009-2014.

 

Bagikan Ini :