Din Syamsuddin/Net

Bagian II

Oleh: Rusdianto Samawa

ISTILAH wacana berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna “ucapan atau tuturan”. Wacana dipadankan dengan istilah discourse dalam bahasa Inggris dan le discours dalam bahasa Prancis.

Kata tersebut berasal dari bahasa Yunani discursus yang bermakna “berlari ke sana ke mari” (Sudaryat, 2009 : 110). Di dalam Dictionnaire de Linguistique (1973:156) lediscours diartikan sebagai “uneunité égale ou supérieure à la phrase ; ilest constitué par une suite formant unmessage ayant un commencement et une cloture”.

Istilah wacana Politik Alokatif sering dipahami sebagai suatu gagasan umum bahwa bahasa ditata menurut pola-pola yang berbeda yang diikuti oleh ujaran para pengguna bahasa ketika mereka ambil bagian dalam domain-domain kehidupan sosial yang berbeda, misalnya dalam domain wacana medis dan wacana politik. Dengan demikian, analisis wacana Politik Alokatif.merupakan analisis atas pola-pola tersebut.

Wacana Politik Alokatif adalah kesatuan yang tatarannya lebih tinggi atau sama dengan kalimat, terdiri atas rangkaian yang membentuk pesan, memiliki awal dan akhir. Hal tersebut hampir sama seperti yang diungkapkan oleh Carlson bahwa wacana merupakan rentangan ujaran yang berkesinambungan (Carlson dalam Tarigan, 2009 : 22).

Dalam pengertian khusus menurut ilmu tata bahasa moderen, wacana Politik Alokatif diartikan sebagai ujaran yang tatarannya lebih tinggi dari pada kalimat, berdasarkan sudut pandang aturan rangkaian kalimat yang saling berkaitan (Dictionnaire de Linguistique, 1973 : 156).

Analisis wacana bukanlah sekedar satu pendekatan tunggal, melainkan serangkaian pendekatan multidisipliner yang bisa digunakan untuk mengekplorasi banyak domain sosial yang berbeda dan berada dalam jenis-jenis kajian yang berbeda. Definisi awal wacana yakni sebagai cara tertentu untuk membicarakan dan memahami dunia (atau aspek dunia) ini.

Kridalaksana (2008 : 259) mendefinisikan wacana sebagai satuan bahasa terlengkap; dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (novel, buku 13 seri ensiklopedia, dan sebagainya), paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap.

Menurut Alwi (2003: 419) wacana Politik Alokatif adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan lainnya dalam kesatuan makna. Sejalan dengan Alwi, Deese (dalam Tarigan, 2009 : 24) mendefinisikan wacana Politik Alokatif sebagai seperangkat preposisi yang saling berhubungan untuk menghasilkan rasa kepaduan atau rasa kohesi bagi penyimak atau pembaca.

Tarigan (2009 : 24) menyebutkan ada delapan unsur penting yang terdapat dalam wacana, yaitu (1) satuan bahasa, (2) terlengkap dan terbesar/tertinggi, (3) di atas kalimat/klausa, (4) teratur/rapi/rasa koherensi, (7) lisan dan tulis, (8) awal dan akhir yang nyata.

Menurut Maingueneau (1998 : 38-41) terdapat delapan ciri penting wacana, yaitu (1) organisasi di atas kalimat, (2) terarah, (3) bentuk tindakan, (4) interaktif, (5) kontekstual, (6) didukung oleh subjek, (7) diatur oleh norma, (8) bagian dalam interdiskursus.

Berdasarkan ciri pertama yang disebutkan oleh Maingueneau, wacana dapat dipahami sebagai sebuah satuan bahasa tertinggi dan berada pada tingkatan di atas kalimat. Satuan bahasa tersebut dapat dikatakan sebagai sebuah wacana jika memiliki makna tertentu.

Meskipun merupakan satuan bahasa terbesar, wacana Politik Alokatif tidak harus diwujudkan dalam rangkaian kata yang sangat panjang. Wacana juga dapat terwujud dalam sebuah kalimat tunggal seperti pada proverb atau kalimat larangan misalnya “Ne pas fumer”. Meskipun kalimat larangan “Ne pas fumer” tersebut sangat pendek, namun ia membawa sebuah pesan atau makna yang jelas (Maingueneau, 1998 : 38).

Seperti yang diungkapkan oleh Mulyana (2005 : 8) bahwa dalam analisis wacana, kata atau kalimat yang berposisi sebagai wacana disyaratkan memiliki kelengkapan makna, informasi, dan konteks tuturan yang jelas dan mendukung. Selain sebagai satuan bahasa terbesar, wacana Politik Alokatif juga merupakan satuan bahasa yang terarah. Yang dimaksud dengan terarah adalah wacana mengikuti tujuan dari pembicara atau melibatkan topik tertentu.

Wacana melibatkan topik tunggal karena ia merupakan sebuah urutan yang linier atau urutan yang lurus. Dalam prosesnya, wacana sering mengubah arah tujuannya namun kembali lagi pada tujuan awalnya (Maingueneau, 1998 : 38-39).

Wacana Politik Alokatif merupakan salah satu bentuk tindakan, yaitu tindakan komunikasi. Semua bentuk ujaran merupakan bentuk dari tindakan seperti janji, interogasi, nasehat dan sebagainya. Ciri wacana yang keempat menurut Maingueneau adalah interaktif.

Wacana Politik Alokatif disebut interaktif karena melibatkan dua pihak. Wujud interaksi ini lebih mudah dilihat dalam wacana lisan seperti dalam percakapan dua orang. Dalam wacana tulis interaksi terjadi antara penulis dan pembaca (Maingueneau, 1998 : 39). Seperti yang disampaikan oleh Arifin & Rani (2000 : 3) bahwa apapun bentuk wacananya, diasumsikan adanya penyapa (addressor) dan pesapa (adresse).

Dalam wacana Politik Alokatif, penyapa adalah pembicara sedangkan pesapa adalah pendengar. Dalam wacana tulis, penyapa adalah penulis sedangkan pembaca sebagai pesapa. Dalam sebuah wacana harus ada unsur pesapa dan penyapa. Tanpa adanya kedua unsur itu tidak akan terbentuk suatu wacana.

Wacana Politik Alokatif bersifat kontekstual. Sebuah ujaran yang sama namun memiliki konteks yang berbeda akan menghasilkan dua wacana yang berbeda. Sebagai contoh adalah dua orang yang saling bercakap-cakap dalam status percakapan antar teman atau antar orang yang berstatus sama, setelah beberapa menit kemudian dapat menempatkan mereka dalam status yang berbeda seperti antara dokter dan pasiennya.

Ciri berikutnya yaitu wacana Politik Alokatif didukung oleh subjek, hal ini berarti bahwa wacana selalu berkaitan dengan subjek. Biasanya subjek muncul sebagai sumber acuan baik personal, temporal atau spasial. Secara khusus, subjek menentukan siapa yang bertanggung jawab terhadap apa yang diujarkan (Maingueneau, 1998 : 40-41).

Wacana Politik Alokatif sama halnya dengan semua tindakan berbahasa lainnya yang memiliki aturan-aturannya tersendiri. Aturan tersebut berimplikasi pada dirinya sendiri. Sebuah wacana Politik Alokatif berkaitan dengan wacana yang lainnya. Sebuah wacana memiliki keterkaitan dengan wacana yang lain, sehingga wacana merupakan bagian dari interdiskursus yang merupakan fungsi reintegratif, yaitu bergabungnya diskursus-diskursus yang ada.

Berdasarkan berbagai pendapat tentang pengertian wacana di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa wacana adalah sebuah bentuk tindakan komunikasi interaktif yang dapat dilakukan baik secara lisan atau tertulis.

Wacana selalu melibatkan dua pihak yaitu penyapa dan pesapa. Wacana merupakan organisasi bahasa tertinggi yang lebih besar atau di atas kalimat. Wacana dapat terwujud dalam bentuk kalimat-kalimat yang banyak dan panjang, namun juga dapat sangat pendek berupa kalimat tunggal yang memiliki makna dan konteks.

Wacana Politik Alokatif sangat berkaitan dengan konteks yang melingkupinya. Wacana yang baik haruslah memiliki kohesi dan koherensi yang tinggi agar menjadi wacana yang utuh dan terbaca. Selain itu, wacana Politik Alokatif juga harus memiliki awal dan akhir yang nyata.[]

*(Alumni Komunikasi Politik, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta)*

Bagikan Ini :