TGB/Net

telusur.co.id – Gubernur Nusa Tenggara Barat, M. Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB), dipandang belum tepat jika harus menjadi calon Wakil Presiden, apalagi calon Presiden, di Pilpres 2019.

Demikian penilaian pengamat politik, Ray Rangkuti, terhadap peluang TGB sebagai Capres atau Cawapres.

Menurut Ray, meski TGB telah dua perode memimpin NTB, namun hal itu belum bisa dijadikan ukuran dirinya untuk naik ketingkat nasional.

“TGB ke ‘geeran’! Mengelola NTB sebagus apapun kan belum nasional, kecuali (mengelola) Jakarta, Jabar (Jawa Barat), Jatim (Jawa Timur), Jateng (Jawa Tengah) dan provinsi-provinsi besar lainnya di Indonesia,” kata Ray kepada telusur.co.id.

Ditegaskan Ray, jika TGB yang telah memimpin NTB dua periode itu langsung melangkah ke Pilpres, maka langkah TGB terlalu jauh. Menurutnya, TGB harus membuktikan satu tahapan lagi yakni duduk di Kabinet atau menjadi seorang Menteri.

“Kalau dari NTB ke Capres ya ke jauhan. Dia (TGB) butuh satu tangga lagi. Dia harus duduk di kabinet.”

Diketahui, nama TGB sudah ramai dibicarakan sejak masuk ke dalam list beberapa lembaga survei. Ia masuk dalam lima besar tokoh, dengan skor tertinggi untuk menjadi calon Wakil Presiden RI. Salah satunya, sebagaimana hasil survei dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Dalam survei, selain TGB, ada nama Mahfud MD, Sri Mulyani, Said Aqil Siraj, dan Airlangga Hartarto.

Namanya kian ramai dibicarakan setelah membuat pernyataan jika Presiden Joko Widodo layak diberikan kesempatan kedua untuk memimpin Indonesia.

TGB pun disinyalir telah mendapat mandat dari Jokowi untuk menemaninya maju di Pilpres 2019. Namun TGB membantahnya. Meski mendukung Jokowi dua periode, ia mengaku tidak ingin ikut campur soal pilihan calon Wakil Presiden. Dirinya juga tak minta jatah cawapres kepada Jokowi.

“Nggak ada bicara jabatan apapun,” kata TGB usai memberikan ceramah, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Minggu (8/7/18). [ipk]

Bagikan Ini :